KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN PADA BERBAGAI ASPEK
NUR FARADA SUGIHARTINI, DINDA ALVINA R.J
IAIN JEMBER
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang sama dengan yang lain berada di pemeliharaan Allah mulai dari kelahiran sampai kematiannya. Setiap manusia dibimbing oleh sesuatu yang khusus untuk menuju tujuannya. Semua perbuatan buruk manusia itu semua ternyata bersumber dari manusia itu sendiri yang mempunyai akal dan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk akibat sifat egoisme dan hawa nafsu manusia. Oleh karena itu Allah selalu mengajarkan dalam perintah-perintahnya melalu wahyuNya, yaitu berupa Al-qur’an, yang dalam hal ini merupakan mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW.[1]
Pada zaman dahulu mukjizat nabi dan rasul itu jangkauannya terbatas, hanya bersifat lokal, dan material. al-Suyūthī telah membagi mukjizat itu dalam dua kategori, yaitu mukjizat hissiyyah (dapat di tanggkap pancaindera), dan ‘aqliyyah (hanya dapat di tangkap nalar manusia). Mukjizat hissiyyah dalam hal ini adalah mukjizat yang Allah berikan kepada nabi dan rasul terdahulu, seperti  nabi Musa yang tongkatnya bisa berubah menjadi ular. Dikatakan mukjizat hissiyyah yaitu mukjizat yang sifatnya hanya sementara.
Al-qur’an merupakan mukjizat yang bersifat ma’nawi yang tidak terbatas pada masyarakat dan masa tertentu, sehingga Al-qur’an berlaku sepanjang masa. Menurut Auguste Conte (1798-1857) mengatakan bahwa secara historis-sosiologis alam pemikiran manusia itu mengalami perkembangan. Hal tersebut seperti yang dikutip oleh Shihab bahwa pikiran manusia dalam perkembangannya melalui tiga fase, yaitu 1) fase keagamaan, karena keterbatasan pengetahuannya bahwa manusia mengembalikan penafsiran semua kejadian atau gejala yang ada itu kepada tuhanNya; 2) fase metafisika, manusia berusaha menafsirkan gejala yang ada dengan mengembalikan segala yang ada itu kepada awal kejadiannya; 3) fase ilmiah, manusia dalam menafsirkan kejadian yang ada berdasarkan pengamatan secara teliti dan percobaan sehingga didapatkan hukum yang mengatur kejadian tersebut. Dalam hal ini, maka mukjizat al-qur’an masuk di fase yang ketiga, yakni potensi piker rasa manusia dianggap sudah luar biasa sehingga bersifat universal.[2]
Pada umumnya mukjizat para rasul yang berkaitan dengan sesuatu yang dianggap bernilai tinggi dan sebagai ketinggihan masing-masing umatnya pada masa itu, sementara itu pada zaman Nabi Muhammad SAW mukjizatnya adalah Al-qur’an. Yang sampai saat ini masih digunakan oleh umat-umatnya. Oleh karena itu makalah ini akan mengulas tentang aspek-aspek kemukjizatan yang ada di dalam Al-qur’an.
B. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana proses  pembentukan mukjizat Al-Qur’an itu?
2.      Apa  mukjizat dan aspek kemukjizatan Al-qur’an itu?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui proses pembentukan mukjizat Al-qur’an.
2.      Untuk mengetaui arti mukjizat dan aspek kemukjizatan Al-qur’an.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    PROSES TERBENTUKNYA MUKJIZAT AL-QUR’AN
Kata “mukjizat” diambil dari kata kerja “a’jaza-i ‘jaz” yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu.” Ini sejalan dengan firman Allah :
....mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” (Q.S. Al-Maidah [5] : 31)
         Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mukjiz dan bila kemampuannya melemahkan pihak umat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, ia dinamai “mukjizat”. Tambahan ta’ marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif).[3]
         Pakar agama islam mendifinisikan beberapa pengertian mukjizat sebagai suatu hal yang luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal yang serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu.[4]
Berdasarkan pendapat yang lain, mukjizat didefinisikan pula sebagai sesuatu yang luar biasa yang diperlihatkan oleh Allahmelalui para nabi dan Rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulannya.[5]Mukjizat pada hakikatnya adalah kemampuan Nabi yang dengan kedekatannya pada Allah SWT. Mampu melakukan tindakan yang luar biasa. Mukjizat dapat terjadi diantaranya melalui beberapa cara atau proses yaitu : 1) kerjanya malaikat yang merupakan sebab bagi peristiwa-peristiwa di dunia, akibatnya siapa yang dekat dan bisa berhubungan dengan malaikat akan mendapatkan bantuan untuk membuat peristiwa-peristiwa yang luar biasa di dunia. 2) akibat kondisi yang mendesak sehingga terlihat luar biasa.[6]
Jadi bahwa proses terbentuknya mukjizat menurut penulis bahwa mukjizat itu diturunkan berawal dari suatu realita yang ada pada masanya nabi. Selain itu juga bahwa mukjizat itu ada berdasarkan kejadian-kejadian yang mendesak sehingga Allah memberikan berbagai mukjizat kepada nabi dan rosul pilihan-Nya.        
B.     ASPEK KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN
Sampai saat ini kesepakatan ulama aspek kebahasan mukjizat Al-qur’an itu tidak dapat dipastikan. Namun dalam makalah ini, aspek-aspek kemukjizatan Al-qur’an dapat diklasifikasikan dalam tiga hal, yaitu aspek kebahasaan, pemberitaan ghaib, dan isyarat ilmiah.
Pertama  kemukjizatan Al-qur’an dalam segi kebahasan, yaitu bahasa yang digunakan dalam Al-qur’an berbeda bahasa orang Arab. Bahasa yang digunakan didalam Al-qur’an adalah bahasa yang menjadikan orang Arab pada saat itu terpesona dan kagum. Walaupun Al-qur’an menggunakan bahasa Arab dalam pengantarnya, akan tetapi kalimat demi kalimat yang mengadung unsur-unsur sastra yang sangat baik, namun tidak mengurangi sedikitpun isi kandungan yang ada di dalamnya. Hal tersebut yang menjadi keutamaan atau keistimewaan aspek gaya bahasa yang digunakan di dalam Al-qur’an. Bahkan Umar bin Khaththab yang mulanya dikenal sebagai seorang yang sangat memusui nabi Muhammad SAW. Dan bahkan berkeinginan untuk membunuhnya, akan tetapi Umar bin Khathab memutuskan untuk dirinya masuk islam dan beriman kepada nabi Muhammad saw. Hal tersebut terjadi hanya karena mendengar petikan ayat-ayat Al-qur’an.[7]
Susunan Al-qur’an tidak bisa disamakan dengan karya sebaik apapun.[8] Muhammad ‘Abd Allah Darrāz mengatakan bahwa, jika diperhatikan secara seksama dalam Al-qur’an banyak terdapat rahasia kemukjizatan dari segi bahasa. Hal tersebut terlihat dari keteraturan bunyi yang indah melalui nada-nada hurufnya.[9] Pada dasarnya bahwa bunyi-bunyi bahasa tergolong menjadi dua komponen, yaitu vokal dan konsonan. Konsonan adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara. Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan getaran pita suara, dan tanpa penyempitan dalam saluran suarat atas glottis.
Dalam literatur Arab, konsonan (shawāmit) terbagi tujuh bagian,(1) Plosif (shawamit infijariyyah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan penutupan pita suara yang di belakangnya udara terkumpul. Kelompok ini adalah ba, ta, tha, dlad, kaf, dan qaf, (2) Nasal (shawamit anfiyyah), yaitu bunyi suara yang dihasilkan dengan mengeluarkan udara melalui hidung. Huruf-huruf yang termasuk kelompok ini adalah mim dan wau, (3) Lateral (shawāmit munharifah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan penutupan sebagian lidah. Huruf yang masuk kelompok ini adalah lam, (4) Getar (shawāmit muharrarah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan arti kulator yang bergetar secara cepat. Huruf yang termasuk dalam kelompok ini adalah ra, (5) Frikatif (shawāmit iftikākiyyah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan penyempitan tempat keluar udara sehingga terjadi pergeseran. Huruf-huruf yang masuk kelompok ini adalah fa, tsa, sin, shad, zay, ghain, dan ‘ain, (6) Plosif frikatif (shawamit infijariyyah-iftikakiyyah), yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan dengan proses perpaduan antara plosif dan frikatif. huruf yang masuk kelompok ini adalah jim, (7) Semivokal (asybah al-shaut), yaitu bunyi bahasa yang memiliki ciri vokal maupun konsonan, mempunyai sedikit geseran, dan tidak muncul sebagai inti suku kata. Huruf-huruf yang termasuk kelompok ini adalah wau dan ya’.[10]
                 Keduaaspek berita ghaib, aspek berita ghaib meliputi berita ghaib pada masa lampau dan berita ghaib pada masa sekarang.
a.       Berita ghaib pada masa lampau, salah satu kekuatan Al-qur’an dan sekaligus mukjizatnya adalah pemaparan kisah-kisah lama yang sudah tidak hidup lagi dalam cerita-cerita Arab saat itu, dan tidak mungkin akan ditemukan secara keseluruhan dalam kajian-kajian yang berhubungan dengan sejarah.[11] Informasi Al-Qur’an tentang kejadian masa lampau cukup banyak, semuanya akan menunjukkan mustahilnya ilmu tersebut berasal dari diri Muhammad sendiri.Beberapa contoh dari kisah-kisah tersebut,  1) Kisah Nabi Nuh as. Hal ini ditegaskan dalam QS. Hūd: 49,
Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), tidak pernah kamu mengetahuinya, dan tidak pula kaummu sebelum ini.” Ayat ini diturunkan dalam konteks pemberitaan kisah Nabi Nuh dan para pengikutnya yang menyelamatkan diri dari musibah banjir besar sebagai cobaan bagi para penantang dakwahnya. Al-Qur’an juga mengisahkan nabi-nabi lain, seperti Nabi Ibrahim, Ismail, Luth, Ya‘qub, Musa, Harun, dan nabi lainnya, yang semuanya sulit diketahui umat manusia tanpa wahyu.
Susunan-susunan kisah dalam al-Qur’an diungkapkan untuk menguraikan ajaran-ajaran keagamaan, sekaligus menjadi pelajaran-pelajaran bagi umat dalam berbagai hal. Sebagai contoh bahwa, penelitian antropologi sangat terbantu oleh narasi kisah Nabi Nuh. Umar Anggara menyimpulkan bahwa berdasarkan tradisi-tradisi kisah Yahudi dan diperkuat oleh hadis Nabi, keragaman etnis umat manusia di dunia bermula dari keturunan Nabi Nuh yang memiliki empat orang anak, yaitu Sam, Ham, Yafat dan Kan‘an. Kan‘an merupakan salah satu anaknya yang menentang kenabian ayahnya sehingga terazab banjir besar. Namun dia mempunyai keturunan yang selamat.[12]
Anak pertama Nabi Nuh, Sam, mempunyai keturunan yang kemudian menjadi bangsa Arab dan Persia. Ham adalah nenek moyang orang Afrika. Yafat adalah asal bangsa Arya yang kemudian melahirkan bangsa Eropa dan Asia Tengah. Sedang Kan’an melahirkan bangsa Phinisia, namun dibasmi dan diserap oleh Israil. Sebab itulah, bangsa-bangsa Timur Tengah sering disebut bangsa Samit atau Semit, bangsa Afrika biasa disebut Hamit. Sedangkan Eropa banyak yang membangsakan dirinya sebagai bangsa Arya. Inilah rekonstruksi yang didasarkan pada kisah-kisah dalam tradisi Yahudi dan Sunnah Nabi,[13]2) Kaum  ‘Ad dan Tsamud serta kehancuran kota Iram. Kaum ‘Ad dan Tsamud yang kepada mereka diutus Nabi Shalih dan Nabi Hud, banyak dibicarakan oleh Al-Qur’an. Ungkapan Al-Qur’an tentang kedua kaum ini adalah berkisar pada segi kemampuan dan kekuatan mereka, maupun kedurhakaan, kesesatan dan pembangkangan mereka kepada Allah SWT dan utusan-Nya.[14]
Al-Qur’an juga menceritakan bagaimana pada akhirnya kedua kaum tersebut dihancurkan oleh Allah dengan gempa bumi dan angin ribut yang sangat dingin dan kencang. Hal ini sebagaimana dilukiskan oleh QS. al-Hāqqah: 4-7 “Kaum ‘Ād dan Tsamūd telah mendustakan hari kiamat. Adapun Tsamūd, mereka telah dibinasakan dengan kejadian luar biasa (petir dan suaranya yang menghancurkan), sedangkan kaum ‘Ād telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari secara terus menerus, maka kamu lihat kaum ‘Ādketika itu, mati bergelimpangan bagaikan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).”
Adapun peradaban kota Iram yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an termasuk peradaban yang sulit dibuktikan dengan penelitian sejarah karena pelacakan data, kecuali melalui penelitian-penelitian arkeologis yang sangat mahal. Kota Iram yang diungkapkan oleh QS. al-Fajr: 6-8, “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad. (Yaitu) penduduk kota Iram yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.” Beberapa yang meragukan informasi al-Qur’an ini. Tetapi sedikit demi sedikit bukti-bukti kebenarannya terungkap. Pertama kali ketika informasi al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang diterima diverifikasi dengan hasil-hasil penelitian arkeologis. Pada penelitian ini bukti-bukti arkeologis tentang terjadinya gempa dan angin ribut, seperti yang dijelaskan oleh Al-Qur’an. Waktu itu diperkirakan masa hidupnya kaum-kaum yang dihancurkan Tuhan, serta di tempat yang diisyaratkan oleh kitab-kitab suci, seperti Lembah Yordania, Pantai Laut Merah, serta Arab Selatan.[15] Tentu saja penjelasan ini belum memuaskan semua pihak. Tetapi dari hari ke hari, bukti semakin jelas dan kini tidak ada alasan lagi untuk menolak informasi AlQur’an.
Pada tahun 1834 ditemukan bahwa di dalam tanah yang berlokasi di Hishn al-Ghurab dekat kota Aden di Yama, yaitu sebuah naskah bertuliskan aksara Arab lama (Hymarite) yang menunjukkan nama Nabi Hud. Dalam naskah itu antara lain tertulis, “Kami memerintah dengan menggunakan hukum Hūd”. Kemudian, pada tahun 1964-1969 dilakukan penggalian arkeologis, dan dari hasil analisis pada tahun 1980 ditemukan informasi dari salah satu lempeng tentang adanya kota yang disebut Ad, Tsamud, dan Iram”. Prof. Pettinato mengidentifikasikan nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disebut pada surah al-Fajr di atas.[16]  Melalui penelitian yang sangat mahal, bahwa yang di sebutkan dalam Al-qur’an, kota Iram itu dapat ditemukan kembali pada Februari 1992 di sebuah gurun di Arabia Selatan, padakedalaman 183 meter di bawah permukaan pasir. Kota tersebut menurut Umar Anggara ditemukan Tim Peneliti yang dipimpin Nichilas Clapp dari California Institute of Technology Jet Propulsion (CIT-JTL). Dia mengawali penelitiannya dengan menyimak legenda-legenda Arab tentang kota tua Ubhar. Dengan bantuan pesawat ulang-alik Challenger yang memiliki sistem Satellit Imaging Radar (SIR), dan satelit Prancis dengan sistem penginderaan optik, Clapp mampu mendeteksi permukaan bawah gurun di Arabia Selatan. Pada kedalaman 183 meter dia menemukan keajaiban besar, sebuah bangunan segi delapan, dengan dinding-dinding dan menara yang mencapai ketinggian 9 meter. Diperkirakan, gedung tersebut mampu menampung sebanyak 150 orang. Di samping itu, dia juga menemukan situs perjalanan kafilah beratus-ratus kilometer. Dengan demikian, dia menyimpulkan, bahwa bangunan tua tersebut merupakan bagian dari kota Iram, pusat kegiatan dakwah Nabi Hūd, cucu Nabi Nūh, dan merupakan peninggalan historis dari kaum ‘Ād, yang tetap hidup dalam legenda Arab berupa legenda kora Ubhar. Kini bangsa Arab sendiri meyakini bahwa Ubhar dan Iram adalah dua nama untuk subjek yang sama,[17]3) Tenggelam dan Selamatnya Jasad Fir‘aun Ditemukan sekitar 30 kali Allah SWT menguraikan kisah Musa dan Fir‘aun dalam Al-Qur’an, yaitu kisah yang tidak diketahui masyarakat ketika itu kecuali melalui kitab Perjanjian Lama. tetapi, menjadi hal yang menakjubkan bahwa Nabi SAW. Melalui Al-qur’an telah mengungkapkan suatu rincian yang tidak disebutkan di kitab sebelumnya, dan bahkan hanya diketahui oleh mereka yang hidup pada masa terjadinnya peristiwa tersebut. Di dalam Al-qur’an kisah fir’aun telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surah Yunus: 90-92
“Dan Kami mungkinkan Bani Israil melintasi laut. Mereka pun diikuti Fir‘aun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil. Ketika Fir‘aun telah hampir tenggelam berkatalah ia, “Saya percaya bahwa tiada tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Allah menyambut ucapan Fir‘aun ini dengan berfirman), “Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Hari ini kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”
Konteks pembicaraan mukjizat dalam ayat di atas, yaitu “hari ini Kami selamatkan badanmu, agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi sesudahmu”. Tentang tenggelamnya Fir‘aun di Laut Merah ketika mengejar Musa dan kaumnya, sudah diketahui. Tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya merupakan hal yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun pada masa Nabi Muhammad SAW bahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama.[18]
b.  Berita gaib masa datang , yaitu menceritakan suatu hal yang dimasa datang atau sekarang, karena di samping menyangkut peristiwa-peristiwa silam, lewat kisah-kisah, al-Qur’an juga mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang aka terjadi, baik di dunia, maupun di akhirat nanti. Peristiwa-peristiwa yang digambarkan al-Qur’an akan terjadi, dan beberapa telah terbukti dalam sejarah. Seperti contoh, 1) Kemenangan umat Islam atas Quraisy yaitu informasi akan datangnya kemenangan umat Islam atas kaum Quraisy yang digambarkan oleh QS. al-Qamar: 45
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.”Melalui ayat ini, Allah menginformasikan kepada Muhammad SAW bahwa kaum musyrikin Quraisy akan dapat ia kalahkan. Ayat ini diturunkan  ketikaRasulullah SAW masih tinggal di kota Mekkah. Beberapa tahun kemudian, tepatnya ditahun VIII Hijriyah, orang quraisy dikalahkan sepenuhnya dalam peristiwa Fath Makkah.[19] 2) kemenangan romawi setelah kekalahannya dan kemenangannya umat Islam. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-qur’an surah Al-rum : 1-5
“Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yan terdekat, dan mereka setelah dikalahkan itu menang. Dalam beberapa tahun( antara tiga sampai 9 tahun). Bagi Allah ketetapan urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan dihari (kemenangan) itu orang-orang mukmin bergembira. Karena pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia Maha Perkasa, lagi Maha Penyayang.
Didalam ayat tersebut bahwa Al-Zarqani menjelaskan bahwa ditahun 614 M. kurang lebih tiga tahun setelah kerasulan nabi Muhammad SAW. Kerajaan Romawi Timur dikalahkan kerajaan Persia dalam pertempuran besar. Kekalahan tersebut merupakan hal yang tragedy bagi kehidupan umat beragama. Dengan alas an bahwa bangsa Romawi adalah penganut agama samawi, yaitu penerus agama Isa dan Musa, sedangkan bangsa Persia menganut agama Majusi. Oleh karena itu, dalam menanggapi kekalahan ini orang-orang Quraisy mencemooh dakwah Nabi SAW. Bahwa para penganut agama samawi telah terkalahkan oleh penganut agama majusi. Kini Muhammad, dengan kitab yang dibawah, akan mengalahkan orang quraisy. Tetapi hal tersebut tidak terjadi. Karena justru orang-orang quraisy yang beragama majusi yang mengalahkan mereka. Kekecewaan umat Muslim akibat kekalahan tersebut yang diperparah dengan ejekan, menjadi latar diturunkannya ayat-ayat tersebut di atas untuk mengobati kekecewaan umat Muslim. Ayat-ayat tersebut pada dasarnya hendak menghibur umat muslim dengan dua hal. Hal yang pertama bahwa Romawi akan menang atas Persia pada waktu yang telah diistilahkan dalam Al-Qur’an ﺑﻀﻊﺳﻨﯿﻦ yang berarti “beberapa tahun” . yang kedua ketika kemenangan itu dating, kaum muslim akan gembira, bukan hanya kemenangan romawi akan tetapi juga kemenangan yang dianugrahkan Allah kepada mereka. Apakah benar informasi tersebut? Sebelumnya, penting untuk dijelaskan bahwa kata  ﺑﻀﻊ dalam kamus-kamus bahasa Arab, berarti “angka antara tiga dan sembilan”. Ini berati al-Qur’an menegaskan bahwa akan terjadi lagi peperangan antara bangsa Romawi dan Persia dan dalam tempo tersebut Romawi akan memenangkan peperangan. Terkait hal ini, penting untuk diingat bahwa informasi ini disampaikan pada saat kekalahan sedang menimpa romawi. Sehingga menetapkan angka pasti bagi kemenangan suatu kaum pada saat kekalahannya adalah hal yang tidak mungkin disampaikan kecuali oleh yang Maha Mengetahui. Ternyata informasi tersebut akhirnya terbukti kebenarannya. Informasi historis menyatakan bahwa tujuh tahun setelah kekalahan Romawi yaitu pada tahun 622 Mterjadi lagi peperangan antara kedua adikuasa tersebut, dan pemenangnya adalah Romawi.[20]
Ketigaaspek isyarat ilmiah, selain dari dua aspek diatas bahwa aspek kemukjizatan Al-qur’an adalah isyarat ilmiah, bahwa banya isyarat ilmiah yang dijelaskan dan diungkapkan di dalam Al-qur’an yang semuanya belum diketahui oleh manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Nabi Muhammad tidak akan mengetahui hal itu jika tidak diberi wahyu oleh Allah Maha Mengetahui.[21] Isyarat ilmiah itu dapat dilihat dalam nberbagai segi ilmu pengetahuan, diantaranya:[22]
1.  Astronomi
a)  penciptaan alam dengan teori Big Bang. Berdasarkan teori tersebut bahwa alam semesta tercipta dari kumpulan gas yang disebut primary nebula, kemudian terpecah dan menjadi bintang-bintang, pelanget-pelanet, matahri, bulan dan yang lain.[23] Hal tersebut telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiyaa’:30
“dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”
b)  lapisan gas sebelum penciptaan galaksi, ilmuan setuju bahwa, sebelum galaksi awan terbentuk, terdapat materi-materi gas stratum (lapisan) gas yang kemudian mengalami tahap pengerasan menjadi galaksi-galaksi di alam. Kumpulan gas yang sebelum mengalami pengerasan itu disebut awan.[24] Hal tersebut dijelaskan dalam QS. Fushshilat:11
“kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: ’Kami datang dengansuka hati.”Kata dukhan pada ayat tersebut itu berarti asap.
c)  bentuk bulat oval bumi (geospherical), pada abad-abad orang beranggapan bahwa bumi datar sehingga orang takut untuk berjalan karena takut untyuk asuk jurang yang dalam. Kemudian pada tahun 1597 Sir Francis Drake menyatakan bahwa bumi itu berbentuk Geospherical (bulat telur) ketia dia menjelajahinya.[25] Di dalam QS. Luqmān:29 menjelaskan bahwa
“tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
d) cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan bersumber dari pantulan.[26]Di dalam QS. Yunus: 5
“ Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya mazilah-mazilah (tempat-tempat) bagi perjalanan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
e)  matahari berotasi, filosof-filosof Eropa dan ilmuwan pada abad-abad awal percaya bahwa bu,I adalah pusat alam semesta dan planet-planet serta matahari yang mengelilingi bumi. Hal ini dikatakan teori geosentrisme. Teori ini dipercaya pada abad 2 sebelum masehi sampai tahun 1512 saat Nicholas Copernicus memunculkan teori heliosentris yang menyatakan bahwa bumi dan planet-planet mengelilingi matahari sebagai pusat. Kemudian tahun 1609 ilmuan jerman Yonannus Keppler menulis dalam bukunya Astronomia Nova bahwa bumi dan planet bukan hanya berputar mengelilingi matahari tetapi juga berputar pada porosnya.[27]Dijelaskan di dalam QS. al-Anbiya’:33
dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
Kata yasbahun berasal dari kata sabaha yang berarti pergeseran dari tubuh yang bergerak. Hal itu dinamakan ’berenang’ jika terjadi di dalam air, dan jika didarat dia berarti berjalan atau berlari. Karena matahari terjadi di alam raya maka kata yang digunakan menggunakan arti aslinya. Secara ilmiah bahwa matahari membutuhkan waktu 25 hari untuk berputar pada porosnya. Ini dapat diketahui karena adanya bintik hitam di dalam matahari. Selain itu, matahari juga bergerak mengelilingi angkasa dengan kecepatan 240 km perdetik yang membutuhkan waktu 200 juta tahun untuk menyelesaikan satu kali putaran revolusi di dalam galaksi kita Milky Way. 
f)   Bintang-Bintang (Nujūm) dan Planet-Planet (Kawākib) Bintang dalam bahasa arab adalah Najm yang disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 13 kali. Bentuk jamaknya Nujum, akar kata yang berarti nampak. Bintang pada waktu malam diberi sifat oleh Al-qur’an dengan kata tsaqib yang berarti membakar, membakar dirinya sendiri dan yang menembus. Di sini maksudnya menembus kegelapan di waktu malam. Kata tsaqib juga dipakai untuk menunjukan bintangbintang yang berekor.[28]Dijelaskan dalam QS. al-Thāriq:1-3:
“Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu Apakah yang datang pada malam hari itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus.”
2.  Geologi
a.   Gunung-gunung sebagai pasak
 ahli geologi menyatakan bahwa lapisan kulit yang paling luar bumi keras dan padat, sedangkan lapisan dalamnya panas dan cair sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan di dalam bumi. Para ahli juga mengatakan bahwa radius bumi sekitar 6035 km, sedangkan lapisan kulit terluarnya hanya berketebalan 2 sampai 35 km. Karena lapisan luarnya terlalu tipis, terjadi kemungkinan adanya goncangan. Ahli geologi menyatakan hal itu sebagai gejala lipatan. Pegunungan berfungsi sebagai pasak yang menahan bumi untuk bergeser dan menjadi penstabil bumi.[29]Hal tersebut dijelaskan dalam QS. al-Naba: 31
“dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalanjalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.”
b.  Gunung-gunung berdiri tegak bahwa gunung memiliki akar dibawahnya yang jauh lebih besar dari pada bagian yang terlihat diluar, keadaan ini membuat gunung dapat bediri dengan tegak.[30] Dalam QS. al-Nazi’at:32
“dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.”
Selain itu banyak isyarat ilmiah yang lain yang dikemukakan oleh Al-qur’an. Kemukjizatan Al-qur’an secara ilmiah terletak pada dorongannya pada umat Islam untuk berfikir, membukakan pintu-pintu ilmu pengetahuan dan mengajak untuk memasukinya, maju di dalamnya, dan menerima segala ilmu pengetahuan baru.[31]

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Mukjizat adalah segala kemampuan Nabi yang dengan kedekatannya pada Allah SWT. Mampu melakukan tindakan yang luar biasa. Salah satu mukjizat yang paling besar yang diberikan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW. Adalah Al-qur’an. Mukjizat Al-qur’an sangat banyak, akan tetapi di dalam makalah ini mengatakan bahwa mukjizat Al-qur’an itu terbagi atas tiga aspek kemukjizatan Al-qur’an, diantaranya adalah aspek bahasa, pemberitaan hal-hal ghaib, dan isyarat ilmiah.Pertama dalam aspek bahasa yaitu dilihat dari konsep atau stuktur gaya bahasa yang digunakan dalam Al-qur’an. Hal tersebut terbukti ketika orang Arab kagum terhadap bahasa yang digunakan dalam Al-qur’an. Kedua pemberitaan hal ghaib, bahwa pemberitaan hal ghaib itu terbagi atas pemberitaan hal ghaib masa lampau dan masa yang akan dating. Pemberitaan pada masa lampau seperti, kisah Nabi Nuh. Pemberitaan pada masa sekarang seperti, kemenangan umat islam atas quraisy. Ketiga isyarat ilmiah, isyarat ilmiah itu memuat berbagai ilmu pengetahuan. Diantara ilmu pengetahuan tersebut adalah astronomi dan geologi.
B. SARAN
Menurut penulis bahwa, mempelajari ulumul qur’an itu penting. Salah satunya adalah kemukjizat Al-qur’an. Dengan alasan bahwa mempelajari kemukjizatan Al-qur’an itu dapat memberikan banyak manfaat dikehidupannya, mulai dari sikap sadar akan hal-hal yang luar biasa yang ada di dalam Al-qur’an, dan juga mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan sehari-hari, seperti perintah dan larangan Allah yang telah dijelaskan di dalam Al-qur’an.

DAFTAR PUSTAKA
Hadi.Bagaimana Cara Terjadinya Mukjizat.http://liputanislam.com/kajian- islam/telaah/bagaimana-cara-terjadinya-mukjizat/(11 Februari 2019).
Abdurrahman.2017. Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya.Jurnal Pustaka:68-85.
Al-Shabuni Muhammad ‘Ali.1390H. Al-Tibyān Fi ‘Ulum Al-Qur`an. Damaskus: Maktabah Al-Ghazali.
Shihab  Quraish, dkk. 2008.Sejarah dan ‘Ulum al-Qur’an, Cet. IV.  Jakarta: Pustaka Firdaus.

ShihabM. Quraish. 1997. Mukjizat al-Qur’an. Bandung: Mizan.
           Anwar, Prof. DR. Rosihon, M. Ag.. 2013. Ulumul Qur’an. Bandung: CV PUSTAKA SETIA.





[1] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),68.
[2] Dr. Acep Hermawan, M.Ag., Ulumul Qur’an,(Bandung: PT REMAJA POSDAKARYA),2013,215.
[3]M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997),23.

[4]Ibid
[5]Said Agil Husain Al-Munawwar, I’jaz Al-Qur’an, dan Metodologi Tafsir, Dimas, Semarang, 1994, 1

[6] Hadi,”Bagaimana Cara Terjadinya Mukjizat”,http://liputanislam.com/kajian-islam/telaah/bagaimana-cara-terjadinya-mukjizat/(11 Februari 2019).
[7] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),70.

[8]Muhammad ‘Ali Al-Shabuni, al-Tibyān fi ‘Ulum Al-Qur`an, (Damaskus: Maktabah Al-Ghazālī, 1390 H),105
[9] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),70-71.
[10]Mahmūd Ahmad Najlah, Lughah al-Qur`an Fī al-Juz ‘Amma, (Beirut: Dar al-Nahdlah Al‘Arabiyyah, 1981), 332-334.
[11]Quraish Shihab, dkk, Sejarah dan ‘Ulum al-Qur’an, Cet. IV, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), 124.
[12] Abdurrahman, yang menulis artikel “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),68-85. Di dalamnya mengatakan bahwa Umar Anggara,  yang memaparkan teori keragaman etnis sekaligus seorang staf pengajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini, melakukan rekonstruksi asal historis keragaman etnis umat manusia, yang dia tulis dalam sebuah makalah berjudul “Kisah Sejarah Purba dalam alQur’an”, dalam Mukjizat al-Qur’an dan al-Sunnah tentang Iptek, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995),68.
[13]Ibid
[14]Lihat misalnya: QS. al-Hajj: 42; al-Syu‘ara`: 123, 141; al-Qamar: 18, 23; al-Hāqqah: 4; alSyams: 11, dan ayat-ayat lainnya.
[15]Quraish Shihab, Mukjizat..., hlm. 198.
[16]Ibid
[17]Quraish Shihab, dkk Sejarah dan..., hlm. 216.
[18]Quraish Shihab, Mukjizat..., hlm. 201.
[19] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),77.
[20] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),77-78.
[21] Kusmana dan Syamsuri, Pengantar Kajian Al-Qur'an: Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2004),85.
[22] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),78-80.
[23]Ibid
[24]Ibid
[25]Ibid
[26]Prof.DR.Rosihon Anwar, M.Ag, Ulumul Qur’an(Bandung: CV PUSTAKA SETIA), 199
[27] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),82-83.
[28] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),81-82.
[29] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),83-84.
[30] Abdurrahman, “Mukjizat Al-qur’an dalam berbagai aspeknya”,Jurnal Pustaka, 8(2017),83-84.
[31]Kusmana dan Syamsuri, Pengantar Kajian…, hlm. 86.

Comments

Popular posts from this blog