MAKNA SPIRITUAL SHALAT, RAHASIA TASYAHUD
NUR FARADA SUGIHARTINI
Pendidikan Spritual
Ceramah yang disampaikan oleh Nasaruddin Umar
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh
Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh
            Pemirsa apa kabar Anda hari ini? Mudah-mudahan Alhamdulillah sehat semua yah dan mudah-mudah keluarga semakin bahagia, semakin harmonis bukan karena bahagia karena banyak harta, mudah-mudahan kondisi batin kita memang saling mengikat satu sama lain dan juga  tentunya bahagi karena dekat kepada Allah SWT. Nah senang rasanya jumpa lagi disini di pintu-pintu syurga. “Pintunya orang-orang beriman”. Baik pemirsa yang dirahmati oleh Allah kita akan membahas lanjutan masih tentang kajian sholat yaitu Makna spiritual sholat itu tema besarnya dan spesifikasi daripada judul hari ini di segment hari ini adalah tentang “Rahasia Tasyahud” karena sabtu yang lalu kita sudah bahas Rahasia Bangkit dari sujud. Tasyahud yang biasa kita lakukan pada sholat wajib biasanya itu ada dua kali tasyahud ya, tasyahud awal dan tasyahud akhir. Nah, bagaimana  maknanya apa rahasia di dalamnya karena kenapa juga mesti ada tasyahud nanti juga insyaAllah akan dibahas bersama narasumber kita seperti biasanya dalam pintu-pintu syurga Prof.Dr.H.Nasarudin Umar.MA. Beliau Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta juga Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga Pimpinan dari Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bone Sulawesi Selatan serta yang satu lagi itu juga menjadi Imam besar di Masjid Istiqlal Jakarta.
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh Prof
Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh
            Iya silahkan sapa pemirsa dulu professor. Baik para pemirsa dimanapun kau berada “Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh. Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh” . Dan juga bersama kita selalu sehat wal afiyat dan selalu berkah An-Nabawi PTQ Jakarta. Sehat selalu “Assalamu’alaikum. Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh yah sekali-kali situ yang Assalamu’alaikum hahaha sama-sama kirim doa yah. Mas Agus eksis terus yah. Dan juga di sini ada jama’ah dari Majlis Ta’lim Darussyafi’iyah Agung-Tanggerang Selatan. Assalamu’alaikum Bunda. Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh. Ada Bapak-Bapak juga yang mengawal di belakangnya, mudah-mudahan Bunda sehat semua “Amiin”, berkah. Nah, simak dengan baik yah Bunda yah, kemarin kita sudah bahas tentang Bangkit dari Sujud dan hari ini tentang Rahasia Tasyahud. Silahkan profesor”.
            Baik para pemirsa, tasyahud itu bagian terakhir dari sholat, tinggal satu terakhirnya salam yah dan insyaAllah minggu yang akan datang kita akan membahas Rahasia Salam. Apa yang dimaksud tasyahud? Dari akar kata Syahidah artinya menyaksikan atau penyaksian tasyahud. Apa yang disaksikan? Dalam kali ini, tasyahud itu ditempatkan pada bagian terakhir sholat tidak ada tasyahud bagian awal. Karena memang tasyahud itu puncak pendakian, puncak kepasrahan, puncak ke khusu’an seorang hamba. Jika seseorang sudah menembus batas, mentok, akhirnya berjumpa dengan dia, berjumpa yang dicarinya. Maka sesungguhnya disitulah muncul tasyahud penyaksian. Itulah sebabnya, pada saat kita tasyahud ka nada ikrar, komitmen Asyhadu An La Ilaha Illallah menujukkan pada saat itu, menunjuk sebagai symbol hadiah atau wahid tunggal disitu. Tasyahud itu juga bisa diartikan dalam sugestik itu sebagai Al khuruju minal katsrah ilal wahdah kita keluar daripada yang banyak, yang kita saksikan hanya satu, ternyata yang kita saksikan ini bukan banyak. Dia Dia juga yang Maha tunggal itu, itu tasyahud atau juga bisa dibalik Al khuruju minal wahdah ilal katsrah, kita berasal dari yang Maha Tunggal lalu berpencar menjadi banyak dan kita sadar itu semuanya, Subhanallah. Jadi pandangan mata batin itu kalau dekat dengan Allah bisa melihat yang banyak menjadi satu, bisa juga yang satu menjadi banyak itu namanya tasyahud. Jadi bisa diartikan tasyahud itu Al khuruju minal fana’ ilal baqa’ kita keluar daripada tanda kutip emm kefanaan. Fana’ itu artinya mabuk spiritual yah artinya  betul-betul di atas ambang kesadaran biasa sudah sampai ke puncak kesadaran itu namanya Fana’. Tapi, setelah orang Fana’ maka kembali normal, tapi kenormalannya itu Al-baqa’ ini disebut tasyahud. At-Tasyahud ya’ni Al khuruju minal fana’ ilal baqa’ kita keluar daripada kefanaan menjadi sesuatu yang alami atau natural sifat. Kalau dulu setengah mati kita khusuk kalau sekarang ini ke khusuk an  itu menjadi hukum alamnya kita. Natural sangat apa yah sudah menjadi karakternya kita disitu. Jadi tidak lagi menjadi setengah mati untuk menyaksikan apa dibalik apa tapi Allah sepertinya membukakan rahasia-rahasianya sehingga begitu kita tasyahud Asyhadu An La Ilaha Illallah plong hati ini, seolah-olah Allah meminjamkan matanya untuk kita gunakan melihat, seolah-olah Allah meminjamkan telinganya untuk kita gunakan mendengar. Apa yang akan terjadi kalau mata tuhan digunakan untuk melihat, telinga tuhan digunakan untuk mendengar. Masih ada tidak alam ghaib buat kita? Tidak ada lagi kan sudah transparan. Inilah hakekat tasyahud dan itu hadist apabila hambaku, apabila umatku sampai kepada makam tertentu maka jadilah mata tuhan untuk digunakan untuk melihat, pendengaran tuhan digunakan untuk mendengar artinya itu bisa dilakukan oleh manusia dan pernah ada, banyak malah. Kita pun juga tidak tertutup kemungkinan bisa sampai ke makam ini, makam tasyahud itu adalah makam yang paling tinggi itulah nanti yang nanti kita sebut sebagai mukasyafah sudah tersingkap semuanya. Dia bisa melihat pohon ini bukan sekedar pohon, kembang ini bukan sekedar kembang, gelas ini bukan sekedar gelas, tapi siapa dan apa dibalik ini semua yang nyata ini. Dia melihat yang banyak ini hanya satu itulah tasyahud yaitu penyaksian, jadi bukan hanya sekedar Asyhadu An La Ilaha Illallah tapi pikirannya entah kemana, perasaan yang kita kenal. Tasyahud yang sejati terungkap dalam batinnya Ya Allah ternyata Engkau adalah Engkau, ternyata aku ini siapa? Yang aku saya saksikan selama ini siapa? Ternyata, subhanallah Walillahi masyrik wal maghrib fa’aynama tuwallu fatsamma wajhullah : dialah yang memiliki timur dan barat kemanapun kalian menghadapkan mukamu disitu engkau menjumpai wajah tuhanmu. Apa yang kita lihat? Wajah tuhan disitu, tapi jangan salah ayatnya mengatakan fa’aynama tuwallu fatsamma wajhullah kemanapun kalian mengahadapkan mukamu, disitu engkau menjumpai wajah tuhanmu. Allah tidak mengatakan fa’aynama tuwallu fatsammallah : kemanapun kalian mengahadapkan mukamu disitu engkau menjumpai Allah, tapi itu yang dijumpai wajah Allah. Maa ma’nal wajah? Apa yang dimaksud wajah? Wajah disitu sebetulnya muka-mukanya tuhan yang kita lihat tapi tajallinya Allah SWT. apa yang dimaksud tajalli ? Manifestation kalau kita bercermin yah muka di depan cermin sama tidak di depan? Sama, wajah itu wajah kita, satu di dalam cermin satu di depan cermin, sang makhluk oleh para sufi disebutkan itulah wujud di dalam cermin tapi yang maha wujud yang sejati sang di depan cermin itu. Nah, kalau makhluk itu adalah wajah dalam cermin maka sang pemilik wajah di depan cermin itu adalah sang maha muthlak, nah orang yang tasyahud itu dia bisa menyaksikan siapa sesungguhnya siapa pada hakekatnya yang terwujud di dalam bumi jagad raya. “Itulah dari banyak menjadi satu, berurai menjadi banyak, jadi gerak gerik kita sebenernya ingat kepada Allah” Iyah, lebih dari itu, jadi tasyahud itu penyaksian Asyhadu An La Ilaha Illallah La Maujud Illallah seolah-olah tidak ada lagi yang maujud selain dia-dia semuanya. Makanya itu kita semua berasal dari mana sih? Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rooji’un, adakah atau bolehkah kita berbicara tentang sesuatu tanpa berbicara tentang Allah. Tidak mungkin kan segala sesuatu kertas ini, kembang ini,cangkir ini, kursi ini sebetulnya dari mana? Urut-urut dari dia Lillahi Wa Inna Ilaihi Rooji’un. Nah orang yang sedang tasyahud dia akan sadar, subhanallah  tidak pantas aku berdosa terhadap tuhan, tidak pantas aku lalai terhadap perintah-Nya, subhanallah sekian lama saya terlena terpesona dengan daya tarik dunia tapi melupakan sang penciptanya. Nah orang bertasyahud dia tidak punya musuh, siapa tidak punya benci, karena siapa sih yang membentuk benci itu, siapa lawan itu siapa yang dibenci itu, jangan pernah membenci siapa pun Karena pada hakekatnya siapa yang dibenci. Sejelek apapun Suami Ibu-Ibu cintailah dia, sebab seratus hari tak pernah kita berhenti membicarakan negative seseorang tapi orang yang sama pun juga seratus hari tidak pernah habis kebajikannya disampaikan. Jadi tidak perlu cari yang lain, khusuk apa yang ada sama saja semuanya.”Proffesor tadi dikatakan tasyahud itu sebuah penyaksian seorang hamba pengakuan setulus-tulusnya akan keesaan Allah gitukan yah, yang memang diiringi dengan  bahwa ee segala sesuatu yang kita lihat seolah-olah memang ada Allah bersama kita gitu kan ya. Nah professor tasyahud itukan juga pada saat ee sholat kita maghrib yang juga empat rokaat seperti ashar, dhuhur, isya’ itu kan ada dua kali tasyahud awal dan tasyahud akhir, artinya ada penyaksian dua kali yang dilakukan pada saat itu, itu simbolnya apa makna dari symbol itu?”. Professor menjawab “Iyah, tasyahud awal tapi sholat sunnat itu kan rata-rata tasyahud satu, sama saja penyaksian itu cumin penyaksian terakhir itu Fahinnal artinya lebih dalam kalau penyaksian masih Kabul, tapi kalau penyaksian yang kedua itu biasanya lebih tahan yang tadinya berjarak menjadi dekat itu tasyahud. Makanya itu kalau tahiyat itu kan sebelum tasyahud ada disitu lafadz tahiyat kita Assalamu’alaika Ayyuhannabiyyu apa artinya? Itu tidak dikatakan Assalamu’alaihi yah, sama juga tidak kita katakan Iyyahu Na’budu : Hanya Dia-Lah yang kita sembah Allah, tapi Iyyaka Na’budu seolah-olah  Allah tampak dihadapan kita, hanya Engkaulah kita sembah. Hadir juga nabi, Assalamu’alaika eh salam sejahtera untukmu, jadi mukhotob disitu, mukhotob orang kedua yang diajak bicara kan? Bukan lagi oaring ketiga. Kita sholawat kepada Nabi Muhammad hu entah alam yang disana lain tapi dalam sholat sebelum tasyahud itu kita Assalamu’alaika bukan Assalamu’alaihi salam sejahtera untuknya, salam sejahtera untukmu ya Rasulullah. Hadir tidak disitu rasulullah? Hadir, karena redaksi yang digunakan  juga redaksi mukhotob bukan redaksi  ghaib iyakan? Kalau ghaib Assalamu’alaihi orang ketiga tapi Assalamu’alaika orang kedua berarti mukhotob yang diajak bicara, salam sejahtera untukmu Ya Rasul yah itu tasyahud. Nah kalau orang faham arti dan hakekat tasyahud gemetar ditangannya tuh, mungkin ada orang getar-getar gini (sambil menggertarkan tangannya) nah itu jangan ditafsirkan macam-macam, kalau orang sudah sampai menembus batas tasyahud benar-benar bisa gemetar subhanallah. Maka itu kan Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Asyhadu An La Muhammadur Rasulullah. Allahumma sholli Wa Sallim ‘Alaa Sayyidina Muhammad sholawatan, nanti kita akan membahas apa arti salam pertama, salam kedua kita nanti akan bahas selesaikan dulu tasyahud ini.
            Pembawa acara mempersilahkan para jam’ah untuk bertanya “Baik Bunda silahkan yang mau bertanya? Yak. “Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh. Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh. Nama saya Romi Rosydianah, saya dari majlis darussyafi’iyah dari Tanggerang Selatan. Mau Tanya proff, pada saat kita membaca Asyhadu An La Ilaha Illallah jari telunjuk kita, kita julurkan ke depan apakah hanya pada saat La Ilaha Illallah atau sampai akhir doa, sampai akhir tahiyat. Terima kasih Proff ata jawabannya Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh” Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh”.
Proffesor menjawab “ Iya itu bagian dari pada yang pernah dicontohkan pada Nabi SAW, yah Shollu Kama Roaytumuuni Usholli Sholatlah engkau sebagaimana melihat aku sholat. Ketika Nabi bertasyahud membaca tasyahud Asyhadu An La Ilaha Illallah Nabi menunjuk Asyhadu An La Ilaha Illallah cukup satu jangan sebelah kiri yah sampai kapan lamanya? Asyhadu An La Ilaha Illallah permanen sampai terakhir yah jangan Asyhadu An La Ilaha Illallah masukkah kembali, tidak permanen Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Asyhadu An La Muhammadur Rasulullah karena kan kita menyaksikan Fil”alamiina apapun yang ada dalam alam ini Innaka itu bukan Innahu sesungguhnya engkau Khamiidun bukan sesungguhnya Dia Maha Terpuji , Maha Mulia ”Itu kaya pujian kita juga kepada Rasulullah, memuji gitu yah” Iyah puji, jadi Asyhadu An La Ilaha Illallah itu kaya menyaksikan. Siapa yang disaksikan? Dua-duanya, Assalamu’alaika Ayyuhannabi salam sejahtera untukmu Nabi. Nah untuk Allah Innaka Khamidummajid sesungguhnya engkau Maha Terpuji. Kalau kita sudah berhadapan berartikan disaksikan kan disitulah terjadi tasyahud. Tasyahud itu ketika kita mengeluarkan diri kita dari alam syahadah masuk ke alam ghaib Al Khuruuju Minasyahadah Ilaa Ghaib yah” . “Yah yang menarik  disitu kita juga menyaksikan akan Allah dan Rasulullah tapi saat itu juga Rasulullah dan Allah menyaksikan karena kan ada kalimat ee Assalamu’alaika Ayyuhannabiyu Warohmatullahi Wabarakatuh sampai Innaka Khamiidummajid dan ada juga doa yang buat kita sendiri yang proff yah yang Wassalamu’alaina Wa ‘Alaa Ibadillahi Sholihin. Nah ini juga maknanya bagaimana?”. Iyah yang salah itukan jamak itu yang rukuk sujud duduk itukan bukan single itu jamak disitu yah. Iyyaka Na’budu hanya engkaulah yang kami sembah Na’budu bukan ‘A’budu hanya Engkaulah yang aku sembah tidak. Aku disini, kami disini, Uwi disini termasuk rohku kalbuku, pikiranku, nyawaku, badanku, keseluruhannya serentak menyembah jangan hanya badannya rukuk tapi pikirannya ntah kemana, jangan hanya badannya rukuk tetapi kalbunya dendam terhadap siapa jadi serentak totalitas diri kita itu harus menyembah kepada-Nya. Nah kalau bersinergis seluruh lapis-lapis diri kita, mulai badannya sampai rohaniah kita  menyatu menjadi satu paket disitu khusyuk itulah yang akan mendapatkan tasyahud sempurna.




Comments

Popular posts from this blog