Relevansi
Kiprah Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren dalam Mewujudkan PerdamaianDunia(
Studi Kasus Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur)
Nur
Farada Sugihartini
Tadris
Matematika IAIN Jember, IMC IAIN Jember
Nurfaradasugihartini.15@gmail.com
Abstact
The purpose in this article is to (1) find out
the profile of Langitan Tuban East Java Indonesian educational institutions,
(2) to find out the education system used in Langitan Tuban East Java Islamic
boarding schools, (3) to find out the relevance of the work of Langitan Tuban
Islamic Boarding Schools in East Java Indonesia in Achieving World Peace. This
article is an article based on the study of texts or other languages is the
study of literature. Data is collected and analyzed from secondary data which
is the result of research as reading scientific books, scientific journals,
research reports, and websites. There are three data analysis techniques in
this research, namely, synthesizing and identifying. The results of this study (1)
Langitan Islamic boarding school in Tuban, East Java, Indonesia has the
characteristics of smoking without cigarettes, (2) the education system used
there are two classical and non-classical education systems, (3) Langitan
Islamic boarding school in Tuban, Indonesia East has the rules of
Al-muhafazhatu 'ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-ashlah (supporting
the good from the old and taking the new one better). Assist in his journey to
always make efforts for improvement and contextualization in reconstructing
socio-cultural buildings, specifically in the world of education and
management. The Langitan Islamic boarding school has concrete, renewal, and
modernization boundaries that do not change or reduce the renewal and idealism
of the pesantren. How pesantren educational institutions are not adrift in the
current of globalization but can position themselves in a strategic position
towards world peace.
Keywords: Pesantren, Education, World Peace
Abstrak
Tujuan
dalam artikel ini untuk (1) mengetahui profil lembaga pendidikan pesantren
Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia, (2) untuk mengetahui sistem pendidikan
yang digunakan di lembaga pesantren
Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia,(3) untuk mengetahui relevansi kiprah
lembaga pendidikan pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesiadalam
Mewujudkan Perdaiaman Dunia. Artikel ini merupakan artikel berbasis kajian teks
atau bahasa lainnya adalah study literature. Data dikumpulkan dan
dianalisis dari data sekunder yang merupakan hasil penelitian sebagai bacaan
buku ilmiah, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan situs web. Teknik analisis
data dalam penelitian ini ada tiga tahap yakni mengatur, mensintesis dan
mengindentifikasi. hasil dari penelitian
ini (1) Lembaga pendidikan pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia ini
mempunyai ciri khas yakni langitan tanpa rokok, (2) sistem pendidikan yang
digunakan ada dua yakni sistem pendidikan klasikal dan non klasikal, (3)
Lembaga pendidikan pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia mempunyai
kaidah Al-muhafazhatu ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-ashlah(memelihara
yang baik dari yang lama dan mengambil yang baru yang lebih baik). Sehingga
dalam perjalanannya senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan
konstektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio cultural,
khususnya dalam dunia pendidikan dan manajemen. Lembaga pendidikan pondok
pesantren Langitan ini mempunyai batasan-batasan yang kongkrit, pembaharuan,
dan modernisasi yang tidak mengubah atau mereduksi orientasi dan idealism pesantren.
Sehingga lembaga pendidikan pesantren tidak terombang-ambing dalam arus
globalisasi namun dapat memposisikan diri dalam posisi yang strategis untuk
menuju perdamaian dunia.
Kata Kunci: Pesantren,
Pendidikan, Perdamaian Dunia
Pendahuluan
Salah
satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia adalah pesantren. Sumbangsi
pesantren bagi bangsa Indonesia tidak hanya menonjol pada dunia pendidikan dan
strategi kebudayaan yang dilaksanakannya, tetapi juga terkait kiprah social dan
politik bagi perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia sebagai jalan menuju
perdamaian dunia. Pengakuan negara terhadap pesantren dan santrinya tergambar
dari ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai hari santri.[1]
Penetapan
hari santri terinspirasi secara langsung dari resolusi jihad yang digelorakan
oleh K.H. Hasyim Asy`ari kepada kaum santri di pesantren-pesantren dalam
revolusi fisik melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia setelah
merdeka. Isi dari resolusi jihad adalah menegaskan kepada setiap individu
muslim di Indonesia bahwa hukum membela tanah air adalah fardhu ain. Resolusi
jihad juga menegaskan bahwa kaum muslim yang berada dalam radius 94km dari
pusat pertempuran wajib ikut berperang melawan belanda. Dua pekan setelah
resolusi jihad dideklarasikan terjadilah pertempuran 10 November 1945 di
Surabaya yang amat legendaris.[2]
Pesantren
yang ada di Indonesia tidak semua terkait angsung dengan aksi herorisme di
tahun 1945. Terdapat beberapa pesantren yang baru berdiri setelah tahun 1945.
Namun pada hakikatnya peran pesantren baik yang berdiri sebelum 1945 dan
sesudah tahun 1945 mempunyai pengaruh yang besar terhadap bangsa Indonesia.
Pada masa pasca kemerdekaan pesantren menjadi lembaga ikut serta dalam
mencerdaskan anak bangsa dalam rangka mengisi kemerdekaan itu sendiri. Jumlah
Pesantren di Indonesia saat ini telah mencapai puluhan ribu. Berdasarkan data
yang ditulis Sekretariat Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama
Islam ditahun 2016, terdapat 28.194 jumlah pesantren yang tersebar di Indonesia
yang tersebar di kota maupun di pedesaan dengan jumlah santri 4.290.626 orang.
semuanya itu berstatus swasta atau swadaya masyarakat.[3]
Di
Indonesia terdapat beberapa pesantren yang berpengaruh di Indonesia, di mana
hal ini dilihat dari jumlah santrinya maupun kiprah para lulusannya yang aktif
menjadi penggerak terdepan perubahan social dan keagamaan di tengah-tengah
Indonesia terutama untuk menuju perdamaian dunia. Salah satu pesantren yang
mempunyai kiprah dalam penggerak terdepan perubahan social dan keagamaan di
tengah-tengah Indonesia terutama untuk menuju perdamaian dunia yakni lembaga
pendidikan pondok pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia. Oleh karena
itu dalam artikel ini bertujuan untuk (1) mengetahui profil lembaga pendidikan
pondok pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia, (2) untuk mengetahui
sistem pendidikan yang digunakan di
lembaga pendidikan pondok pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia,
(3) untuk mengetahui relevansi kiprah lembaga pendidikan pondok pesantren
Langitan Tuban Jawa Timur Indonesiadalam Mewujudkan Perdaiaman Dunia.
Pembahasan
Studi
Pendahuluan: Qua Vadis Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa
Timur Indonesia
Lembaga
pendidikan pesantren Langitan Tuban ini merupakan lembaga pendidikan Islam
tertua di Indonesia yang didirikan oleh K.H. Muhammad Nur[4]. Lembaga ini
berdiri sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1852 M, bertepat di
dusun Mandungan eda Widang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur. Komplek
lembaga pendidikan pesantren Langitan Tuban ini berada dibantaran sungai
Bengawan Solo dan berada atas areal tanah seluas kurang lebih tujuh hektar
serta pada ketinggian tuju meter di atas permukaan laut. Lokasi pondok berada
kira-kira empat ratus kilometer sebelah selatan ibu kota kecamatan Widang, atau
kurang lebih tiga puluh kilo meter sebelah selatan ibukota kabupaten Tuban Jawa
Timur. Selain itu, lembaga ini juga berbatasan dengan desa Babat kecamatan
Babat kabupaten Lamongan dengan jarak
sekitar satu kilometer. Lokasi di lembaga ini sangat strategis sehingga lembaga
pendidikan pesantren Langitan ini mudah dijangkau melalui sarana transportasi
darat, baik bus; kereta api; atau yang lainnya.
Lembaga
pendidikan pesantren Langitan Tuban ini mempunyai visi[5] dan misi[6].[7]Selain
mempunyai visi dan misi lembaga pendidikan Pesantren ini mempunyai salah satu
asrama santri pondok pesantren Langitan, yang bernama Darul Ghuroba’.[8] Santri
yang tinggal bukan santri biasa, tapi adalaah santri yang benar-benar tidak
mampu karena santri yang tinggal di sana dibebaskan dari biaya apapun, mulai
dari makan, biaya sekolah, kitab vcfbndanlain-lain. Dalam pengelolahan
administrasi darul ghuroba’ memiliki wewenang sendiri dalam mengatur tanpa
adanya campur tangan dari pondok induk.Artinya darul ghuroba’ seperti badan
otonom yang berada di bawah naungan lembaga pendidikan pondok pesantren
Langitan.[9]
Periode
Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur
Setelah
wafatnya K.H. Muhammad Nur yang telah mengasuh dan merintis pesantren yakni
pada tahun 1852-1870, kepengasuhan dilanjut oleh putranya yang bernama
K.H.Ahmad Sholeh. Beliau mengasuh selama kurang lebih 32 tahun yakni pada tahun
1870-1902, pada masa ini pesantren Langitan memasuki pfase perkembangan. Hal
ini tercatat bahwa pada masa iti terdapat beberapa ulama’ besar yang menimbah
ilmu di sana. Diantaranya, Syaichona K.H.M. Cholil, Bangkalan, Hadratus Syekh
K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Syamsul Arifin, dan K.H.
Shiddiq, Jember.[10]
Setelah
wafatnya K.H. Ahmad Sholeh pada tahun 1902 kepengasuhan digantikan oleh
menantunya yakni K.H. Muhammad Khozini (1902-1921).Beliau mengasuh pesantren
selama kurang lebih 19 tahun. Setelah wafatnya K.H. Muhammad Khozini
kepnegasuhan digantikan oleh menantunya yakni K.H. Abdul Hadi Zahid selama
kurang lebih 50 tahun. (1921-1971) M, dan seterusnya kepengasuhan digantikan
oleh anak kandungnya yaitu K.H. Ahmad Marzuqi Zahid yang mengasuh selama 29
tahun (1971-2000) bersama dengan keponakannya, yaitu K.H. Abdullah Faqih di
mana pesantren ini mulai masuk pada fase pembaharuan.[11]
Pada
masa K.H. Ahmad Marzuqi Zahid dan K.H. Abdullah Faqih[12] inil, pesatren
Langitan mulai menyelenggarakan proses tranformatif ilmu dengan dua sistem,
yaitu pendidikan madrasiyah dan ma’hadiyah.[13]
Budaya
Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Langitan Tanpa Rokok
Cirri
khas yang dimiliki pesantren Langitan adalah larangan keras terhadap rokok,
larangan rokok ini sudah digalakkan sejak masa kepengasuhan K.H. Abdulah Faqih.Larangan
merokok di pesantren Langitan ini sudah berlangsung sejak tahun 1990-an,
jauh-jauh sebelum adanya kontroversi keharaman rokok di Indonesia.[14]Larangan
merokok ini berlagu bagi para santri, ustadz, pengasuh, serta masyarakat
sekitar pondok yang tidak diperbolehkan merokok di lingkungan
pesantren.[15]Kebijakan larangan rokok tersebut disampaikan secara
bertahap.Awalnya larangan merokok tersebut dapat diberlakukan kepada santri
yang berusia di bawah 18 tahun. Setelah berhasil, larangan meningkar kepada
santri yang berusia di bawah 20 tahun.Setelah kembali berhasil diberlakukan
untuk semua santri, ustadz, dan para Pembina pendidikan pesantren
Langitan.[16]
Sejarah
Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia
Lembaga pendidikan
pesantren ini berawal dari sebuah surau[17] kecil, K.H. Muhammad Nur mulai
mengajarkan tentang agama Islam dan menggembleng keluarga dan tetangga
dekatnya.Seiring berjalannya waktu didirikan pondok-pondok kecil mulai dibangun
untuk menampung para santri yang datang dan menuntut ilmu.
Nama
Langitan merupakan bentuk perubahan dari kata “Plangitan”.“Plangitan” sendiri
merupakan kombinasi dari dua kata yakni “Plang dan Wetan”. “Plang” mempunyai
makna papan nama dan “Wetan” mempunyai makna Timur. Di Widang[18] dahulu,
lembaga pendidikan pesantren Langitan Tuban ini didirikan karena pernah berdiri
dua buah plang yang masing-masing terletak di Timur dan di Barat.Setelah itu,
di dekat plang sebelah Wetan didirikannya sebuah lembaga pendidikan ini karena
pada saat itu kebiasaan pengunjung menjadikan plagng Wetan sebagai tanda untuk
memudahkan orang mendata dan mengunjunginya. Oleh karena itu, scara alamiyah
lembaga pendidikan pesantren ini diberi nama pesantren Plangitan karena banyak
orang menyebutnya dengan Pesantren Plang Wetan atau pesantren Palingat. Namun
seiring berjalannya waktu lembaga pesantren ini masyhur dengan nama Pondok
Pesantren Langitan.[19]
Keberadaan
Plangitan ini dikuatkan kembali dengan adanya sebuah cap bertuliskan kata
Plangitan dalam huruf Arab dan berbahasa Melayu yang tertuliskan pada kitab Fathul
Mu’in [20]yang selesai ditulis tangan oleh K.H. Ahmad Sholeh pada hari
Selasa 29 Rabiul Akhir 1297 H.[21]
Sistem
Pendidikan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur
Indonesia
Pendidikan
merupakan usaha manusia untuk membina kepribadiannya berdasarkan nilai-nilai di
dalam masyarakat dan kebudayaan.Pendidikan berlangsung di mana saja. Hakikatnya
suatu proses pendidikan itu ada sepanjang kehidupan manusia.[22]Pendidikan
merupakan fenomena yang fundamental, yang juga mempunyai sifat konstruktif
dalam hidup manusia.[23]
Sistem[24]
pendidikan berdasarkan perspektif makro diartikan sebagai satu kesatuan
organis-dinamis antar bidang kehidupan dalam satu sistem kehidupan masyarakat,
bangsa dan negara. Dalam perspektif mikro diartikan sebagai suatu serangkaian
kesatuan organis-dinamsi antar unsure pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan.[25]Sistem pendidikan nasional merupakan keseluruhan komponen
pendidikan yang saling berhubungan secara terpadu untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional.[26]
Pendidikan
dan pengajaran dalam pendidikan pesantren merupakan tolak ukur bagi
aktifitas-aktivitas lainnya. Dapat dikatakan bahwa kelangsungan hidup dan
eksistensi sebuah pesantren adalah Pendidikan dan pengajaran.[27] secara garis
besar bahwa tujuan pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di lembaga
Pesantren Langitan Tuban ini tertuang dalam tiga pokok dasar, diantaranya (1) membina
anak didik menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas
(alim) yang bersedia untuk mengamalkan ilmunya, rela berkorban dan berjuang
dalam menegakkan syariat Islam, (2) membina anak didik menjadi manusia yang
mempunyai kepribadian yang baik (saleh) dan bertakwa kepada Allah SWT serta
bersedia menjalankan syariatnya, (3) membina anak didik yang cakap dalam
persoalan agama (kafi), yang dapat menempatkan masalah agama pada
proporsinya, dan bisa memecahkan berbagi persoalan yang tumbuh di tengah-tengah
masyarakat. [28]
Sistem
pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di lembaga pendidikan pesantren
Langitan dalam dua sistem[29], yakni klasikal[30](Madrasiyah) dan non
klasikal[31](ma’hadiyah).[32] Lembaga Al-falahiyah, Al-Mujibiyah,
Ar-Raudhoh memiliki persamaan yang hampir sama termasuk aspek kurikulum, karena
ketiga lembaga tersebit berada dalam satu atap yakni lembaga pendidikan
pesantren Langitan Tuban Jawa Timur.
Untuk
melaksanakan kegiatan pendidikan terdapat beberapa penunjang dan pelengkapan
yang berada d madrasah dan bersifat mengikat kepada semua peserta didik sebagai
alternative untuk mempercepat proses pemahaman terhadap disiplin ilmu yang
diajarkan, maka di pesantren Langitan juga diberlakukan kegiatan ekstrakulikuler
yaitu pertama, musyawarah atau munazharah (diskusi). Kegiatan
musyawarah berlangsung setiap malam Rabu dan Jumat.Hal ini bertujuan sebagai
media bagi peserta didik untuk menelaah, memahami, dan memahami suatu tema atau
topic yang terdapat dalam masing-masing kitab kuning.Kegiatan ini diharapkan
melahirkan generasi yang potensial yang mempunyai pemikiran-pemikiran kritis
dan berwawasan luas serta kreatif dalam menyerap dan menggali suatu materi
sekaligus mampu mengkomunikasikan kepada masyarakat luas.[33]
Kedua,muhafazhah
(hafalan). Metode ini hafalan ini sangat identik dengan pendidikan tradisional
termasuk pendidikan pesantren. Kegiatan ini bersifat mengikat kepada setiap
peserta didik dan diadakan setiap malam Selasa. Beberapa kitab yang digunakan
sebagai rujukan adalah Alala, Rasun
Sirah, Aqidat Al-Awam,Hidayat Ash-Shibyan, Tashrif Al-Istilahi dan Lugawi,
Qawaid Al-‘ilal, Matan Al-Jumuriyah, Tufat Al-Athfal, Arba’in an-Nawwawi, ‘Imrithi,
Maqshud, Aqidat Al-Farid, Alfiyah ibni Malik, Jawahir Al-Maknum, as-Sullam
Al-Munawraq, dan Qawa’id Al-Fiqhiyyah.[34]
Dalam
pelaksanaannya sistem ma’hadiyah dibagi menjadi dua kelompok.Pertama,
umum yaitu program pendidikan nonklasikal yang dilaksanakan setiap hari (selain
Selasa dan Jumat). Waktunya beragam menyesuaikan kegiatam di madrasah. Kegiatan
ini diasuh oleh majlis masyayikh, asatidz, dan santri senior. Kedua, takhasus,
yaitu program pendidikan khusus bagi santri pasca Aliyah dan santri-santri lain
yang dianggap telah mempunyai pemahaman ilmu dasar seperti nahwu, sharaf,
akidah, dan syariah.Program ini lebih popular disebut dengan musyawirin, yang
diasuh langsung oleh majlis masyayikh.Dalam pelaksanaanya setiap hari, kecuali
Selasa dan Jumat.Materi yang diajarkan adalah bidang fikih, seperti Fath Al-Mu’in
dan Mahalli, juga bidang hadis.[35]
Selain
sistem pendidikan klasikal dan nonklasikal lembaga pendidikan pesantren
Langitan ini juga menyediakan program pendidikan tahfidz Al-qur’an.Para santri
yang berkeinginan untuk menghafal Al-qur’an disediakan asrama khusu agar bisa
berkonsentrasi lebih. Baik pondok putra maupun pondok putrid barat ataupun
timur, masing-masing mempunyai asrama khusus untuk santri-santri penghafal
Al-qur’an.[36]
Kiprah
Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia Dalam
Mewujudkan Perdaiaman Dunia
Abdurrahman
Wahid, mendefinisikan pesantren secara teknis, pesantren adalah tempat dimana
santr tinggal.[37]Sendi kehidupan pada era globalisasi ini mengalami banyak
perubahan yang cepat.Instiusisosial kemasyarakatan, kenegaraan, keluarga bahkan
institusi keagamaan tidak luput dari pengaruh globalisasi.Sehingga tidak
sedikit terjadi perbedaan nilai-nilai di segala bidang kehidupan. Apakah santri
dan pesantren akan menutup diri terkait hal ini? Tentu saja tidak.Santri
merupakan bagian dari kelompok individu yang mempunyai harapan besar untuk
kedepannya.Karena ketika sepulang dari lembaga pendidikan pondok pesantren
diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan mereka menuju kehidupan yang lebih
baik. Dengan melihat tantangan yang besar maka solusinya menjadikan santri
sebagai figure manusia yang kuat jiwanya, tidak mudah guncang oleh gelmbang
arus kehidupan, juga cerdas dan luas wawasannya agar bisa memecahkan segala
masalah yang menimpah dirinya dan masyarakat teruntuk mewujdukan perdamaian
dunia.
Perdamaian
dunia merupakan kebebasan dan kebahagiaan bagi seluruh negara atau bangsa.
Perdamaian dunia meliputi perbatasan hak asasi manusia, tekhnologi, pendidikan,
atau pengakhiran seluruh bentuk pertikaian. Dalam Islam telah jelas
bahwa Allah telah meberikan penjelasan melalui firman-Nya tentang perdamaian,
diantaranya terdapat dalam QS. Al-Anfal/8:61[38]
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ
فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم
Artinya:
Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah
kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.[39]
Dalam
ayat tersebut Allah memberikan anjuran untuk damai, hal ini berdasarkan yang
termuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.[40] Selain pada QS. Al-Anfal/8:61 juga
dijelaskan melalui QS. An-Nisa’/4:128 dan QS. An-Nisa’/4:35[41]
وَإِنْ
خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا
إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا
خَبِيرًا
Artinya:
Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah
seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga
perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan,
niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Maha
Mengetahui, Mahateliti.
QS.
An-Nisa’/4:35
وَإِنِ
امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا
أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ
الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ
خَبِيرًا
Artinya:
Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak
acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan
perdamaian, itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya
kikir. Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) dan memelihara
dirimu (dari nusyuz dan sikap acuh-takacuh), maka sungguh, Allah Mahateliti
terhadap apa yang kamu kerjakan.
Dalam
membentuk figur santri seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka di
lembaga pendidikan pondok pesantren Langitan terdapat kontruksi bangunan
aktivitas santri agar lebih terarah pada tujuan ini. Karena dari sinilah akan
dibentuk santri-santri yang akan membentuk kepribadian dan perilaku santri
ketika berada di tengah-tengah masyarakat. Berikut kegiatan yang ada di lembaga
pendidikan pondok pesantren Langitan Tuban Jawa Timur Indonesia.[42]
Pendidikan pesantren Langitan ini mempunyai
kaidah Al-muhafazhatu ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-ashlah (memelihara
yang baik dari yang lama dan mengambil yang baru yang lebih baik). Sehingga
dalam perjalanannya senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan
konstektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio cultural,
khususnya dalam dunia pendidikan dan manajemen.Lembaga pendidikan pesantren
Langitan ini mempunyai batasan-batasan yang kongkrit, pembaharuan, dan
modernisasi yang tidak mengubah atau mereduksi orientasi dan idealism
pesantren.Sehingga lembaga pendidikan pesantren tidak terombang-ambing dalam
arus globalisasi namun dapat memposisikan diri dalam posisi yang strategis
untuk menuju perdamaian dunia.[43]
Hal
tersebut selain dilihat dengan kegiatan para santri juga dibuktikan dengan
melihat para alumni pesantren Langitan. Para santri dan alumni lembaga
pendidikan pondok pesantren Langitan tuban mengadakan kegiatan khusus yakni doa
laingatan untuk bangsa, ikhtiar untuk mengetuk pintu langit. Kegiatan ini
dipusatkan di pondok pesantren Mambaus Sholihin, Suci Gresik. Kegiatan tersebut
baru saja dilakukan pada tanggal 7 April 2019. Kegiatn Silatnasyang digelar di
pesantren asuhan K.H. Masbuchin Faqih diikuti oleh para alumni Pesantren
Langitan dengan jumlah peserta 3.000 lebih yang berasal dari berbagai Daerah di
Jawa Timur, dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Kediri, Jombang, Gresik,
Lamongan, Tuban, Bojonegoro, dan dari luar Jawa Timur.[44]
Berdasarkan
juru bicara Silatnas( Silaturrahmi Nasional) keluarga santri dan alumni
pesantren Langitan, menjelaskan pentingnya kegiatan tersebut dilakukan.
Berdasarkan konsolidasi politik tahun ini melalui pemilu 2019, realitas
kekinian telah memberikan gambaran yang memprihatinkan bagi kalangan pesantren
dengan meluasnya berita hoaks bahkan bahkan fitnah terutama menjadikan agama
sebagai ruang untuk tarik menarik dalam kepentingan kelompok. Pada kondisi
inilah keluarga santri dan alumni Langitan Tuban menyelenggarakan kegiatan
Silatnas untuk membangun komitmen kebangsaan alumni pesantren dan ikut serta
berperan dalam menjaga perdamaian dan persatuan bangsa, hal ini diucapkan oleh
kiai Abdullah Faqih (almaghfurlah).[45]
Dalam
kesempatan kegiatan Silatnas keluarga santri dan alumni Langitan mengeluarkan
beberapa pernyataan sikap. Diatantaranya, (1) Berkomitmen untuk setia dan siap
berjuang untuk menjaga NKRI dengan ideologi Pancasila dan siap berjuang dibawah
panji-panji organisasi Nahdlatul Ulama’ dalam jam’iyah, amaliah, fikrah dan
harakah untuk menjaga Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah; (2) Berkomitmen untuk
melawan berita-berita hoaks dan fitnah; (3) Dalam hal sikap dan pilihan politik
yang menyangkut kemaslahatan ummat, keluarga santri dan alumni Langitan setia
dan patuh terhadap pilihan para kiai dengan komitmen untuk memilih dan
memenangkan Jokowi dan KH Ma'ruf Amin sebagai Presiden & Wakil Presiden
RI.[46]
Penutup
Kesimpulan
Dari
beberapa uraian di atas penulis dapat menyimpulkan:
1. Lembaga Pendidikan
Pesantren Langitan Jawa Timur Indonesia merupakan lembaga pendidikan tertua di
Indonesia yang berdiri sebelum Indonesia merdeka. Berdiri pada tahun 1852,
bertepat di dusun Mandungan eda Widang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa
Timur.
2. Sistem pendidikan yang
diterapkan di pesantren Langitan yaitu sistem pendidikan klasikal dan non
klasikal. Sistem pendidikan klasikal merupakan sebuah model pengajaran yang
bersifat formalistic. Orientasi pendidikan dan pengajarannya terumuskan secara
teratur dan procedural, baik meliputi masa, kurikulum, tingkatan dan
kegiatan-kegiatannya. Sistem pendidikan non klasikal menggunakan metode wetonanatau
bandongan dan sorongan. Metode wetonan atau bendongan
merupakan sebuah model pengajian dimana seorang ustadz memberikan penjelasan
atau menjabarkan kita kuning sedangkan santri mendengarkan dan memberi makna.
Metode sorongan berkebalikan dengan metode bandongan yang mana
santri membaca dan kiai atau ustadz member pembetulan-pembetulan, komentar,
atau bimbingan yang diperlukan.
3. Lembaga pendidikan
pesantren Langitan mempunyai kaidah Al-muhafazhatu ‘ala al-qadim ash-shalih
wa al-akhdzu bi al-ashlah (memelihara yang baik dari yang lama dan
mengambil yang baru yang lebih baik). Sehingga dalam perjalanannya senantiasa
melakukan upaya-upaya perbaikan dan konstektualisasi dalam merekonstruksi
bangunan-bangunan sosio cultural, khususnya dalam dunia pendidikan dan
manajemen. Lembaga pendidikan pesantren Langitan ini mempunyai batasan-batasan
yang kongkrit, pembaharuan, dan modernisasi yang tidak mengubah atau mereduksi
orientasi dan idealism pesantren. Sehingga lembaga pendidikan pesantren tidak
terombang-ambing dalam arus globalisasi namun dapat memposisikan diri dalam
posisi yang strategis untuk menuju perdamaian dunia. Hal ini dibuktikan dengan
santri dan para alumni yang Berkomitmen untuk setia dan siap berjuang untuk
menjaga NKRI dengan ideologi Pancasila dan siap berjuang dibawah panji-panji
organisasi Nahdlatul Ulama’ dalam jam’iyah, amaliah, fikrah dan harakah untuk
menjaga Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah; (2) Berkomitmen untuk melawan
berita-berita hoaks dan fitnah; (3) Dalam hal sikap dan pilihan politik yang
menyangkut kemaslahatan ummat, keluarga santri dan alumni Langitan setia dan
patuh terhadap pilihan para kiai dengan komitmen untuk memilih dan memenangkan
Jokowi dan KH Ma'ruf Amin sebagai Presiden & Wakil Presiden RI.
Daftar
Pustaka
Al-qur’an
Muhammad,
bin Abdullah dan Muhammad bin Abdurrahman. 2003. Tafsir Ibnu Katsir.
Jakarta: Pustaka Imam Syafii. Jilid 4.
Hadiyatullah.2018.
Dari Pesantren ke Pesantren. Jakarta: Erlangga.
Rodliyah,
St. 2013. Ilmu Pendidikan. Jember: STAIN PRESS.
Wahid,
Abdurrahman. 2001. Menggerakkan Tradisi, Esai-Esai Pesantren.
Yogyakarta: LKIS.
Khanifah,
Iqdha. 2018. Strategi Brand Image Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban. Skripsi.
Diterbitkan. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Universitas Islam Negri Sunan
Ampel: Surabaya.
NN.
TT. Sejarah Lembaga Pendidikan Pesantren Langitan. Dari http://langitan.net/?page_id=79,
(diakses pada tanggal 19 Oktober 2019 pukul 11:36 PM).
NN.
TT. Pendidikan dan Pengajaran Le,mbaga Pendidikan Pondok Pesantren Langitan.
Dari http://langitan.net/?page_id=79,
(diakses pada tanggal 19 Oktober 2019 pukul 11:39 PM).
Khanifah
, Iqdha. 2018. Strategi Brand Image Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban.
Dari http://digilib.uinsby.ac.id/25661/3/Iqdha%20Khanifah_D03214004.pdf, (diakses pada tanggal 20 Oktober 2019
pukul 04:05 PM).
Ustadz
Muafa. 23 Maret 2018. Mengenal Kitab Fathu Al-Muin Karya Al-Malibari.
Dari http://irtaqi.net/2018/03/23/mengenal-kitab-fathu-al-muin-karya-al-malibari/,(diakses pada tanggan 19 oktober 2019
pukul 12:27 PM).
NN.
TT. Pendidikan Merupakan Fenomena yang Fundamental. https://docplayer.info/63636023-Bab-i-pendahuluan-pendidikan-merupakan-fenomena-manusia-yang-fundamental-yang-juga.html, (diakses pada tanggan 19 oktober 2019
pukul 12:27 PM).
jumlah
pesantren yang tersebar di Indonesia. Dari http://pendis.kemenag.go.id, (diakses pada tanggal 19 Oktober 2019
pukul 19:00 PM).
Khazanah. Santri
Alumni Langitan Doa Bersama, begini keprihatinannya. 08 April 2019 pukul
13:23,. Dari https://www.ngopibareng.id/timeline/santri-alumni-langitan-doa-bersama-begini-keprihatinannya-1472532, (diakses pada tanggal 20 Oktober
2019 pukul 09:46 PM).
[1]
Hadiyatullah, Dari Pesantren ke Pesantren, (Jakarta: Erlangga, 2018),
01.
[2]Ibid,.
[4]K.H.
Muhammad Nur merupakan putra seorang kiai dari desa Tuyuhan, Rembangan, Jawa
Tengah.Beliau termasuk keturunan dari Mbah Abdurrahman pangeran Sambo.Beliau
mengasuh dan merintis pondok pesantren selama kurang lebih 18 tahun mulai tahun
1852-1870.Beliau wafat pada hari Senin, 30 Jumadil Ula 1297 H.
[5]
Visi dari lembaga pendidikan pesantren Langitan ini adalah terwujudnya insane
yang memiliki keseimbangan spiritual, intelektual, dan moral menuju generasi
ulul albab yang berkomitmen tinggi terhadap kemaslahatan umat dengan
berlandaskan Al-qur’an dan As-Sunnah.
[6]
Misi dari lembaga pendidikan pesantren Langitan ini adalah menyelenggarakan
proses pendidikan Islamyang berorientasi pada mutu, berdaya saing tinggi, dan
berbasis pada sikap spiritual, intelektual dan moral untuk mewujudkan pemimpin
yang menjadi rahmatan lil alamin.
[7]Iqdha
Khanifah, “Strategi Brand Image Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban” , http://digilib.uinsby.ac.id/25661/3/Iqdha%20Khanifah_D03214004.pdf, (diakses pada tanggal 20
Oktober 2019 pukul 04:05 PM).
[8]Darul
Ghuroba’ mempunyai keistimewaan tersendiri, didirikan oleh KH. Ubaidillah Faqih
tepat disebelah timur jalan raya atau sekitar 300M dari lokasi pusat pondok
pesantren langitan
[9]Iqdha
Khanifah, “Strategi Brand Image Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban” , http://digilib.uinsby.ac.id/25661/3/Iqdha%20Khanifah_D03214004.pdf, (diakses pada tanggal 20
Oktober 2019 pukul 04:58 PM).
[10] Hadiyatullah, Dari Pesantren ke Pesantren,
(Jakarta: Erlangga, 2018), 302.
[11]Ibid.,
[12]K.H. Abdullah Faqih lahir pada tanggal 2 Mei 1932 di
dusun Mandungan desa Widang, Tuban.Saat masih kecil beliau lebih banyak belajar
dengan ayahnya yang bernama K.H. Rofi’I Zahid, di pondok pesantren
Langitan.Ketika menginjak dewasa beliau mondok di Lasem Rembang di bawah asuhan
Mbah Abdur Rochim.K.H. Abdullah Faqih juga pernah menuntut ilmu di Mekkah.
Beliau di sana belajar kepada Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayahnya Sayyid
Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki sendiri kerap
berkunjung ke pondok pesantren Langitan. Di mta para santri K.H. Abdullah Faqih
adalah tokoh yang sederhana, istiqomah dan alim. Dalam sholat lima waktu beliau
pasti memimpin berjamaah. Nama K.H. Abdullah Faqih pernah senter terdengar
sebagai “kiai khos” ketika Gus Dur divalonkan menjadi presiden.Di dalam NU
dikenal dengan istilah kiai khas (khusus). K.H. Abdullah Faqih kerap dijadikan
rujukan utama di kalangan Nahdliyin, beliau dianggap mempunyai wawasan dan
kemampuan ilmu agama yang luas, memiliki laku atau daya spiritual yang tinggi,
mampu mengeluarkan kalimat hikmah atau ajaran moral yang dipatuhi, dan jauh
dari keinginan-keinginan duniawi. K.H. Abdullah Faqih kerap menjadi rujukan
utama di kalangan Nahdliyin terutama menyangkut kepentingan politik.K.H.
Abdullah Faqih wafat pada tanggal 29 Februari 2012.
[13]Ibid.,
[14] Hadiyatullah, Dari Pesantren ke Pesantren, (Jakarta:
Erlangga, 2018), 305.
[15]Kebijakan larangan rokok dilatarbelakangi bahwa
santri yang mengonsumsi rokok dianggap sudah ‘tabzir’ atau
berlebihan/pemborosan.Sedangkan mereka belum memiliki pekerjaan dan mempunyai
pendapatan kecuali uang kiriman dari orang tuanya.Uang dari orang tuanya yang
seharusnya digunakan untuk biaya nyantri, sering digunakan untuk membeli rokok.
[16]Hadiyatullah, Dari Pesantren ke Pesantren,
(Jakarta: Erlangga, 2018), 309.
[17] Lembaga Pendidikan Pondok Pesntren ini berawal dari
surau kecil artinya berawal dari tempat yang kecil kemudian seiring berjalannya
waktu semakin berkembang.
[18] Widang dalam kamus KBBI berarti Widang, namun di
sini merupakan sebuah nama desa yang ada di kabupaten Tuban Jawa Timur
Indonesia.
[19]“Sejarah Lembaga Pendidikan Pesantren Langitan”, http://langitan.net/?page_id=73, (diakses pada tanggal 19
Oktober 2019 pukul 10:50 PM).
[20]Fathul Mu’in merupakan syarah kitab “Qurrotu Al-‘Ain” atau yang
memiliki nama lengkap “ Qurrotu Al-‘Ain bi Muhimmati Ad-Din. Fathu Al-Mu’in”
ini ditulis setelah masa penulisan “Nihayatu Al-Muhtaj” karya Ar-Romli.Artinya,
kitab ini bisa dipahami sebagai cerminan ringkasan fase kematangan mazhab
Asy-Syafi’i. kitab ini merupakan kitab yang kaya ilmu dan padat informasi,
terdapat daftar nama ulama, nama tokoh dan nama kitab yang dikutip Al-Malibari
di dalamnya.
[21]“Sejarah Lembaga Pendidikan Pesantren Langitan”, http://langitan.net/?page_id=76, (diakses pada tanggal 19
Oktober 2019 pukul 11:36 PM).
[22] St. Rodliyah, Ilmu Pendidikan, (Jember:
STAIN JEMBER PRESS, 2013), 29.
[23]Fenomena yang fundamental yang mempunyai sifat
konstruktif artinya seorang pendidik dituntut untuk melakukan penerapan yang
sesuai dengan pendidikan, sebagai pertanggungjawaban tentang perbuatan yang
dilakukan, yaitu membimbing dan mendidik. Karena hakikatnya pendidikan itu
mempunyai tujuan tidak sekedar proses alih ilmu pengetahuan(transfer of
knowledge, tetapi juga sebagai proses alih nilai (transfer of value).
[24]Sistem berasal dari bahasa Yunani yang artinya
berdiri bersama (Stand together). Sistem merupakan kesatuan dari
bagian-bagian yang saling berhubungan atau bekerjasama untuk mencapai hasil
yang diharapkan berdasarkan kebutuhan yang dibutuhkan.
[25] St. Rodliyah, Ilmu Pendidikan, (Jember:
STAIN JEMBER PRESS, 2013), 58.
[26]UU RI Nomor 20 tahun 2003.
[27]“Pendidikan dan Pengajaran Le,mbaga Pendidikan
Pondok Pesantren Langitan”, http://langitan.net/?page_id=79,
(diakses pada tanggal 19 Oktober 2019 pukul 11:39 PM).
[28] Hadiyatullah, Dari Pesantren ke Pesantren,
(Jakarta: Erlangga, 2018), 306.
[29]Sistem pendidikan yang diterapkan melalui dua istem
ini berlangsung ketika masa pengasuhan K.H. Abdullah Faqih yang mana memadukan
sistem pendidikan klasik dan modern.
[30]Sistem pendidikan klasikal merupakan sebuah model
pengajaran yang bersifat formalistic.Orientasi pendidikan dan pengajarannya
terumuskan secara teratur dan procedural, baik meliputi masa, kurikulum,
tingkatan dan kegiatan-kegiatannya. Pendidikan dengan sistem klasikal di
pesantren Langitan (baik pondok putra dan putri) ditandai dengan berdirinya
tiga lembaga, diantaranya Al-falahiyah; Al-Mujibiyah; dan Ar-Raudhoh.Lembaga
pendidikan Al-Falahiyah berada di pondok putra, lembagaini mulai jenjang RA/TPQ
dengan masa pendidikan selama dua tahun, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah
Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah masing-masing pendidikannya selama tida tahun.
Ar-Raudhoh berada di pondok putrid, fase pendidikannya mulai MI, MTs, MA
masing-masing selama tiga tahun.
[31] Sistem pendidikan non klasikal menggunakan metode wetonanatau
bandongan dan sorongan. Metode wetonanatau bendonganmerupakan
sebuah model pengajian dimana seorang ustadz memberikan penjelasan atau
menjabarkan kita kuning sedangkan santri mendengarkan dan memberi makna.Metode sorongan
berkebalikan dengan metode bandongan yang mana santri membaca dan kiai
atau ustadz member pembetulan-pembetulan, komentar, atau bimbingan yang
diperlukan.
[32] Hadiyatullah, Dari Pesantren ke Pesantren,
(Jakarta: Erlangga, 2018), 307-309.
[33]Ibid.,
[34]Ibid.,
[35]Ibid.,
[36]Iqdha Khanifah, “Strategi Brand Image Pondok
Pesantren Langitan Widang Tuban”, http://digilib.uinsby.ac.id/25661/3/Iqdha%20Khanifah_D03214004.pdf, diakses pada tanggal 20 Oktober
2019 pukul 04:05 PM.
[37]Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi,
Esai-esai Pesantren, (Yogyakarta: LKIS, 2001), 17.
[38] Al-Qur’an QS. Al-Anfal/8:61
[39] Wa in janahuu “Dan jika mereka condong” yaitu
cenderung. Lis silmi “Kepada perdamaian” yakni berdamai perbaikan
hubungan dan penghentian perang. Fajnah laHaa “Maka condonglah kepadanya”
Maksudnya cerderunglah engkau kepada perdamaian tersebut dan terimalah tawaran
mereka tersebut. wa tawakkal ‘alallaaHi “Dan bertawakkallah kepada Allah”
Maksudnya, berdamailah dengan mereka dan bertawakkallah kepada Allah, karena
Allah yang memberikan kecukupan dan menolongmu.
[40] Abdullah bin Muhammad, Muhammad bin Abdurrahman, Tafsir
Ibnu Katsir, (Jakarta: Pustaka Imam Syafii), Jilid 4, 71.
[41] Al-Qur’an QS. An-Nisa’/4:128 dan QS. An-Nisa’/4:35.
[42]Iqdha Khanifah, “Strategi Brand Image Pondok
Pesantren Langitan Widang Tuban”, http://digilib.uinsby.ac.id/25661/3/Iqdha%20Khanifah_D03214004.pdf, diakses pada tanggal 20 Oktober
2019 pukul 06:52 PM.
[43] Hadiyatullah, Dari Pesantren ke Pesantren,
(Jakarta: Erlangga, 2018), 303..
[44]Khazanah, “Santri Alumni Langitan Doa Bersama, begini
keprihatinannya”, 08 Apr 2019 13:23, https://www.ngopibareng.id/timeline/santri-alumni-langitan-doa-bersama-begini-keprihatinannya-1472532, (diakses pada tanggal 20
Oktober 2019 pukul 09:46 PM).
[45]Ibid.,
[46]Ibid.,
Comments
Post a Comment