RELEVANSI KIPRAH PESANTREN UNTUK MENUJU GENERASI
EMAS DI TAHUN 2045
Dari buku yang berjudul dari pesantren ke pesantren yang
disusun oleh Hadiyatullah , S.Pd.I., M.M, diterbitkan oleh Emir, imprint penerbit Erlangga, dan diedit oleh Andriansyah, Hijrah Ahmad,
Adhika Prasetya. Sebelum membahas mengenai apa yang ada di dalam buku ini, kita
mengetahui bahwa penerbit menjelaskan secara singkat apa isi yang terkandung di
dalam buku tersebut dan menjelaskan secara garis besar dari pesantren.Pertama penerbit menjelaskan bahwa arti
dari pesantren adalah suatu lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia.
Pesantren yang ada di Indonesia tidak hanya menonjol dari kegiatan pendidikan
dan strategi kebudayaan yang dilakukan, tetapi juga menyangkut kiprah sosial dan
politik bagi perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia. Pengakuan negara
terhadap pesantren dan santrinya tergambar dari ditetapkannya tanggal 22
oktober sebagai hari santri.
Penetapan hari santri terinspirasi secara langsung dari
resolusi jihad yang digelorakan oleh K.H. Hasyim Asy`ari kepada kaum santri di
pesantren-pesantren dalam revolusi fisik melawan Belanda yang ingin kembali
menjajah Indonesia setelah merdeka. Isi dari resolusi jihad adalah menegaskan
kepada setiap individu muslim di Indonesia bahwa hukum membela tanah air adalah
fardhu ain. Resolusi jihad juga menegaskan bahwa kaum muslim yang berada dalam
radius 94km dari pusat pertempuran wajib ikut berperang melawan belanda. Dua
pekan setelah resolusi jihad dideklarasikan terjadilah pertempuran 10 November
1945 di Surabaya yang amat legendaris. Kedua
penerbit menjelaskan bahwa pesantren
di Indonesia saat ini telah mencapai puluhan ribu. Berdasarkan data yang
ditulis Sekretariat Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama Islam
ditahun 2016, terdapat 28.194 jumlah pesantren yang tersebar di Indonesia yang
tersebar di kota maupun di pedesaan dengan jumlah santri 4.290.626 orang.
Ketiga penerbit
menjelaskan isi yang terdapat di buku ini, yaitu berisiskan 55 pesantren yang
ada di Indonesia. Sebanyak 55 pesantren yang ditulis secara komperhensif dalam
buku ini memang tidak semuannya terkait langsung dengan aksi heroisme ditahun
1945. Ada beberapa pesantren yang baru berdiri setelah masa itu. Jumlah
pesantren yang termuat dalm buku ini jauh dari memadai untuk memotret keunikan
setiap pesantren yang ada. 55 pesantren yang termuat dalam buku ini dianggap
berpengaruh di Indonesia, dimana hal tersebut dapat dilihat dari jumlah santrinya
yang banyak dan kiprahnya para lulusan yang aktif menjadi pengerek terdepan
perubahan sosial dan keagamaan di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Setelah mengulas singkat apa yang telah disampaikan
penerbit kepada pembaca. Di dalam buku ini menerangkan, memaparkan, menjelaskan
beberapa pesantren di Indonesia. Di dalam buku ini dijelaskan mengenai 55
pesantren yang ada di Indonesia. Dari ke 55 pesantren tersebut itu dari
berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa
Barat, Banten, Jakarta, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Sumatra.
Dari berbagai provinsi, kota yang telah disebutkan, di dalamnya tidak hanya ada
satu pondok pesantren yang dituliskan dalam buku ini. Jawa Timur terdapat 18
pesantren yang dijelaskan dalam buku ini. Jawa barat terdapat 14 pesantren yang
dijelaskan dalam buku ini. Jwa tengah terdapat 8 pesantren yang dijelaskan
dalam buku ini. Jakarta terdapat 3 pesantren yang dijelaskan dalam buku ini.
Banten terdapat 4 pesantren yang dijelaskan dalam buku ini. Kalimantan terdapat
3 pesantren yang dijelaskan dalam buku ini. NTB terdapat 1 pesantren yang
dijelaskan dalam buku ini. Dan Sumatra terdapat 3 pesantren yang dijelaskan
dalam buku ini.
Dari berbagai uraian diatas bahwa 55 pesantren yang
dijelaskan dalam buku ini tidak akan dijelaskan secara lengkap atau detail 55
pesantren tersebut. Di sini akan dijelaskan dari beragia pesantren yang memang
sudah sering kita dengar. Dan dalam tulisan yang saya tulis kali ini akan
menguraikan secara singkat dari buku ini terkait dengan pondok pesantren modern
Darussalam Gontor yang ada di Jawa Timur.
Di dalam buku ini tidak hanya menjelaskan pesantren-pesantren
yang telah disebutkan. Di dalam buku ini juga menjelaskan biorgrafi dari
pendiri atau orang yang berperan penting dalam pesantren tersebut. Sesuai yang
telah disebutkan diawal bahwa disini akan menguraikan secara singkat tentang
beberapa pesantren yang telah disebutkan. Mulai dari pesantren yang ada di Jawa
sampai Kalimantan.
Pertama pesantren modrern Darussalam
Gontor Jawa Timur. Pesantren modern Darussalam Gontor didirikan oleh tiga
bersaudara, yaitu K.H. Ahmad Sahal
(1901-1977), K.H. Zainuddin Fanani (1908-1967), dan K.H. Imam Zarkasyi
(1910-1985). Pesantren modern Darussalam Gontor ini berdiri pada tanggal 12
Robiul Awal 1345 H atau 20 September 1926 M. Awal dari berdirinya pesantren ini
diilhami oleh peristiwa dalam kongres umat islam indonesia (KUII) di Surabaya
pada pertengahan tahun 1926 yang akan mengutus wakil dari Indonesia ke Muktamar
Islam sedunia yang diselenggarakan di Makkah. Indonesia hanya mengirim dua
utusan yaitu H.O.S. Cokroaminoto yang mahir berbahasa Inggris, dan K.H. Mas
Mansur yang menguasai bahasa Arab. Dari peristiwa ini yang mengilhami K.H.
Ahmad Sahal tentang perlunya mencetak tokoh-tokoh yang menguasai bahasa Inggris
dan Arab.
Pesantren ini berawal dari pesantren Tegalsari yang
didirikan oleh Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari pada abad 18. Setelah beliau
wafat kepemimpinan digantikan oleh anaknya sampai pada kepemimpinan Kiai
Kholifah, meskipun sebelumnya mengalami kemunduran, kemudian ketika
kepemimpinan Kiai Kholifah terdapat seorang santri yang bernama Sulaiman
Jamaluddin, yang kemudian beliau meminta Kiai Sulaiman Jamaluddin pergi ke desa
Gontor untuk mendirikan pesantren. Pada saat itu Gontor terkenal sebagai
persembunyian para bromocorah. Kiai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat oleh
mertuannya untuk merintis pondok pesantren, ditemani oleh 40 santri yang
dititipkan oleh kiai Khalifa kepadanya. Pesantren Gontor yang didirikan oleh
kiai Sulaiman Jamaluddin kemudian berkembang dengan pesat, khususnya dipimpin
oleh putra beliau, yang bernama Kiai Archman Anom Besari. Setelah Kiai Archman
wafat digantikan oleh Kiai Santoso Anom Besari. Kiai Santoso adalah generasi
ketiga dari pendiri Gontor lama. Selama kepemimpinan generasi ketiga, pesantren
ini kembali mengalami masa kemunduran. Kegiatan pendidikan dan pengajaran di
pesantren mulai memudar. Sebab kemunduran antara lain karena kurangnya
perhatian terhadap kederasi.
Setelah sepeninggalnya beliau keadaan gontor lama semakin
sirnah, bahkan masyarakat sekitar banyak yang kehilangan agamanya. Kehidupan molimo, yakni maling, madon,
madat,mabuk, dan main judi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Dari hal
tersebut Nyai Santoso mendidik putra-putrinya agar meneruskan perjuangan dengan
menghidupkan kembali pesantren Gontor yang telah mati. Setelah ketiga anak dari
Nyai Santoso itu menimbah ilmu maka ketiga anak tersebut didaulat untuk membuka
kebali pondok pesantren Gontor. Pada saat itu jenjang pendidikan dasar dimulai
dengan nama Tarbiyatul Athfal (AT). TA adalah suatu program pendidikan
anak-anak untuk masyarakat di Gontor. Pada tahun krtuju pendirian, santrinya
mencapai 500. TA terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat untuk
belajar. Dengan semakin banyaknya santri yang menyelesaikan pendidikan di
tingkat TA, serta tinggihnya minat masyarakat untuk memperoleh pendidikan
lanjutan, maka pengasuh pesantren Gontor membuka program lanjutan yang diberi
nama Sullamul Muta`allimin (SM) ditahun 1932. Pada tingkatan ini santri
diajarkan diajarkan mata pelajaran seperti fikih, hadis, tafsir, dan terjemahan
Al-Quran secara lebih mendalam dan luas. Para santri juga diajarkan untuk
berpidato, membahas suatu persoalan, serta diberi sedikit bekal untuk menjadi
guru lewat pengajaran ilmu jiwa dan pendidikan. Disamping itu, para santri juga
diajari keterampilan, kesenian, olah raga, gerakan kepanduan, dan lain-lain.
Kegiatan ekstrakulikuler mendapat perhatian luar biasa dari pengasuh pesantren,
sehingga tiga tahun setelah berdirinya SM, ikut berdiri pula berbagai gerakan
dan barisan pemuda seperti Tarbiyatul Ikhwan (organisasi pemuda), Tarbiyatul
Mar`ah (organisasi pemudi), Muballighin (organisasi juru dakwah), Bintang
Islam(gerakan kepanduan), dan lain-lain.
Pada tanggal 19 Desember 1936, PMDG membuka program
pendidikan tingkat mencegah pertama dan menengah ats yang dinamakan Kulliyatul
Mualimin Al-Islamiyyah (KMI) atau sekolah guru islam. KMI adalah sekolah guru
islam yang modelnya hampir sama dengan sekolah normal islam di padang panjang.
Model ini kemudian dipadukan dengan model pendidikan pondok pesantren. Proses
pendidikan berlangsung selama 24 jam. Pelajaran islam dan umum diberikan dengan
seimbang. Pada tanggal 17 November 1963, PMDG mendirikan perguruan tinggi
darussalam (PTD), yang selanjutnya menjadi (IPD), yang kemudian berganti
menjadi (ISID). Saat ini ISID memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah
dengan jurusan PAI dan PBA. Fakultas ushuliddin dengan jurusan perbandingan
agama dan jurusan akidah dan filsafat. Fakultas syariah dengan jurusan
perbandingan madzab dan jurusan hukum dan manajemen lembaga keuangan islam.
Sejak tahun 1996 ISID telah mempunyai kampus sendiri di
Demangan, Siman, Ponorogo. Cita-cita untuk mendirikan universitas digalakkan
kembali. Pada tahun 2013 panitia pendiri universitas Darussalam Gontor
dibentuk. Dengan kerja kerasnya universitas Darussalam Gontor telah resmi
berdiri pada tanggal 4 Juli 2014 dan diresmikan secara internal pada tanggal 18
September 2014. Perkembangan pesantren dimulai dengan penambangan modern pada
nama pesantren gontor. Hal itu diresmikan pada tanggal 19 Desember 1936.
Bersama hal itu diresmikan pula pendidikan baru yaitu KMI. Pada tanggal 12
Oktober 1958, PMDG mencatat peristiwa penting pada acara syukuran empat windu
berdirinya pesantren. Para pendiri mewakafkan pesantren miliknya kepada umat
Islam yang diwakili oleh anggota Ikatan Keluarga Pondok Modern(IKPM). Yang
kemudian membentuk badan wakaf.
PMDG saat ini diasuh generasi kedua, yaitu K.H. Dr.
Abdullah Syukri Zarkasyi, K.H. Hasan Abdullah Sahal, K.H. Syamsul Hadi Abdan.
Pada generasi ini mendirikan lembaga kemasyarakatn bernama pusat latihan
manajemen dan pengembangan masyarakat(PLMPM) pada tahun 1988. Lembaga ini
bertujuan membekali para alumni gontor dengan kecakapan dan keterampilan di
bidang dakwah dan kewirausahawan supaya lebih sip ketika terjun di
tengah-tengah masyarakat. PMDG terbagi menjadi berbagai macam yakni PMDG 1, 2,
3, 4. Pada tahun 1998, ijazah lulusan KMI memperoleh pebgakuan persamaan dari
kementrian Agama. Sementara kementrian pendidikan sdan kebudayaan memberikan
penyetaraan kepada lulusan KMI sejak tahun 2000. Jauh sebelum ijazah KMI itu
diakui oleh kemenag dan kemendikbud ijazah KMI telah diakui oleh lembaga
pendidikan Internasional, seperti Universitas Alazar dan perguruan darul uklum
di Universitas Kairo (Mesir), dan lain-lain.
Comments
Post a Comment